Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Deetje

Beautiful DeetjeBeautiful DeetjeBeautiful DeetjeBeautiful DeetjeBeautiful DeetjeBeautiful Deetje
Beautiful DeetjeBeautiful DeetjeBeautiful DeetjeBeautiful DeetjeBeautiful DeetjeBeautiful Deetje
Deetje, a set on Flickr.
Pada hari Minggu, saya dan Komunitas Aleut pergi menyurusi Bandung Utara. Saat itu kami akan jalan kaki dari Lembang menuju Punclut. Sebelumnya kami mampir dulu ke rumah dengan nama Deetje yang konon bekas rumahnya Ursone--pengusaha susu masa Hindia Belanda yang kini jasadnya dikuburkan di Makam Pandu.

Begitu melihat Deetje, saya langsung merasa rumah ini begitu cantik! Lihat menaranya yang menjulang di sebelah kiri (yang mengingatkan pada restoran Dakken di Jl. Riau), lihat pula lantai yang penuh semangat akan corak, lihat pilar-pilar dan ruang kosong di dalamnya. Selain itu, saya paling suka pintunya dengan kaca-kaca di atasnya.

Bagian tengah Deetje cukup terawat, mungkin karena sering dipakai foto pre-wedding (sebagaimana yang dikatakan penjaga rumah). Bagian belakangnya hampir ambruk namun tidak mengurangi kecantikannya.

Deetje memiliki empat buah kamar mandi yang cukup bersih. Teman saya bertanya untuk apa ya kamar mandi sebanyak itu (dan berdempetan layaknya toilet di mall). Bukankah rumah itu biasanya memiliki kamar mandi yang cukup tersebar?

Oh ya, saat pertama kali datang, kami disambut dengan gongongan anjing dan seorang pria bersinglet yang menonjolkan otot-otot lengan atasnya. Entahlah, frame itu mengingatkan saya pada film The Raid: tentang lingkungan kelas bawah yang keras--yang kemudian diperkuat dengan datangnya seekor anjing budug saat kami mulai memasuki rumah.

Apapun ceritanya, Deetje jelas cantiknya. Dan saya suka.

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba