Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Mata Hari di Atas Canvas

Halo. Seperti yang dijanjikan bahwa saya akan datang ke pameran di Lawangwangi saat datang ke Bandung, akhirnya terlaksana juga. Andika, Marty, dan saya datang di hari Minggu (11/11) ke galeri yang terletak di Dago Giri ini. Nun jauh di atas sana. Dekat dengan surga.

Pameran kali ini berjudul Mata Hari Centhini karya Eddy Susanto. Awalnya kami membaca tulisan di tembok tentang pameran ini kemudian Andika berkata bahwa sosok Mata Hari betulan ada. Wah, saya baru tahu nih. Pengetahuan baru ini juga ditambah oleh penjelasan general manager Lawangwangi yaitu ibu Andajani Trahaju yang saat itu menemani kami lihat-lihat. Ibu Andajani menjelaskan bahwa Mata Hari adalah seorang penari perempuan kelahiran Belanda, yang menjelajah hingga Nusantara (salah satunya Semarang), yang direkrut Jerman sebagai mata-mata, kemudian ditembak mati oleh tentara Perancis. Haduh, pusiang.

Di tembok berdinding violet, terpasang dua buah gambar akrilik di atas kanvas dengan judul Kamasutra #1 dan Kamasutra #2. Jika dilihat dari kejauhan, gambarnya tampak seperti Mata Hari yang sedang duduk ala putri duyung, hanya memakai bra dan tidak mengenakan celana dalam. Saat melihat dari dekat, ya ampun.. ada aksara Hindi yang melingkar dengan pusat lingkaran di selangkangan lalu meluas hingga sisi canvas. Apalagi Bu Andajani menerangkan bahwa aksara tersebut membuat sebuah cerita! Lalu kejutan tidak berakhir di situ karena perbedaan dua gambar tersebut adalah: Kamasutra #1 dibuat dengan mencetak aksara Hindi terlebih dahulu lalu Mata Hari digambar di atasnya dan Kamasutra #2 dibuat dengan menggambar Mata Hari dan aksara Hindi dicetak di atasnya.

Whoa. Ini dia detilnya:

Kamasutra #1 dan Kamasutra #2 oleh Eddy Susanto, Lawangwangi, 2012

Detil Kamasutra #2 

Lanjut ke ruangan selanjutnya, terdapat sembilan buah gambar Mata Hari yang berpose sembilan gerakan tarian atas tafsir Centhini. Berbeda dengan gambar sebelumnya dengan aksara Hindi, kesembilan gambar ini berlapis aksara Jawa. Menurut Bu Andajani, Mata Hari, Kamasutra, dan Centhini merupakan sebuah satu elemen karena sama-sama memberi pandangan tentang perempuan. Selain tarian, kesembilan gambar tersebut menggambarkan sembilan watak manusia. Tubuh ideal, daya tarik seks yang sensual, dan watak yang mulia tercermin dalam bait-bait tembang Jawa--yang dihadirkan dalam pameran Mata Hari Centhini ini.

Ini adalah foto-foto iseng saya dan teman-teman yang konon gambar yang kami pilih mewakili alter ego kami. Hehe:


Marty dan alter ego-nya

Saya dan alter ego saya

Andika dan alter ego-nya
Saya senang menghadiri pameran Eddy Susanto ini karena eksekusinya begitu rapi dan terasa tema, tujuan, dan benang merah setiap karyanya. Tidak sabar untuk melihat pameran selanjutnya. Selain itu Mata Hari terlihat cantik dan begitu sensual sekaligus berbahaya. Femme fatale.

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba