Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

TOPOS/CHAOS


"Dika, lo suka engga sama karya-karyanya?"
"Engga."
"Karena engga indah ya?"
"Iya."

Kira-kira begitulah respon Andika, teman saya sekaligus Neni, yang kala itu datang bersama-sama melihat pameran TOPOS/CHAOS karya Bambang BP. Karya dengan garis merah kekisruhan atau kacau balaunya pasir, debu, kerikil, jejak, galian, lumpur, dan lainnya yang digambar menggunakan potlot diatas kanvas tidaklah "indah" dipandang mata. Tidak warna-warni, tidak feminin layaknya bebungaan, atau mungkin tidak menimbulkan perasaan senang saat melihatnya.

Memang Bale Tonggoh Selasar Sunaryo kala itu tampak biasa saja dengan hamparan gambar yang dominasi hitam, putih, dan keabuan. Monokrom. Kecuali di sisi dalam Bale Tonggoh terdapat hamparan tanah coklat di atas papan.

Berbeda dengan Dika, saya menyukai karya-karyanya, terutama ketertarikan pada detil yang digambar oleh Bambang BP pada kasarnya tekstur tanah hingga lembutnya langit berbulan. Dimensi-dimensi yang ia ciptakan melalui tebal atau tipisnya ulasan membikin gambar tanah di atas kanvas ini tampak betulan dan sungguh memiliki gestur. Apalagi kejelian dan kerapian seniman terhadap detil alat pengeruk di karyanya yang berjudul Morning Mood (2011). Juga Mud Enthusiasm (2012) yang terlihat seperti lumpur yang dilemparkan langsung ke atas kanvas. Karya-karyanya membikin saya ingin mengamati lekat-lekat, memandangi titik-titik hitam potlot yang digoreskan pada kanvas.

Detil dari Morning Mood (2011)

Mud Enthusiasm (2012)

Meski Bambang BP menggambar tanah dan teman-temannya yang ada di permukaan bumi, saya tidak melihat ini sebagai pameran kaku yang mengusung penelitian mengenai topografi. Seperti yang dikatakan kuratornya, Hendro Wiyanto, tempat (topos) ini merupakan media dimana seniman melakukan pencitraan visual secara artistik. Artistik lho ya, bukan keilmuan.

Berikut ini adalah beberapa karyanya yang saya suka:

A Manmade Arrangement (2011)

Land Gesture (2012)

Detil titik potlot dari Gravel Stories (2012)

Neni berkata bahwa pameran gambar dengan menggunakan potlot mengingatkan pameran Hikayat Sang Pohon oleh Risca Nogalesa Pratiwi di IFI Bandung. Pameran tersebut menggambarkan pohon yang bertali-tali dan saling berkait. "Kalau pameran yang itu, lebih terasa digambar pakai potlotnya. Kalau ini, tidak," ujar teman saya sambil membandingkan.

Dari sini saya jadi kepikiran bahwa arang, akrilik, cat minyak, apapun ... asal bisa mencerminkan imajinasi di alam pikiran, menjadi media belaka.

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba