Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

#6: Terkapitalisasi


Halo, lama tak jumpa dengan si monyet yang sedang menjelajah rimba Jakarta. Maklum, kemarin ia sempat sibuk mengerjakan tugas kemonyetannya antara cagar alamnya di Bandung dan rimbanya hutan beton di Jakarta serta menjelajah hutan bakau Segara Anakan dan cagar alam Nusakambangan.

Perlu diakui bahwa lagaknya si monyet memang sudah fancy. Belakangan ia milih-milih makanan yang mahal, ingin di tempat yang bagus--bahkan untuk sekedar ngopi, makan makanan ringan yang tidak mengenyangkan namun harganya sudah seperti makan berat sambil mengobrol dengan teman-temannya, dan seterusnya. Tidak hanya di Jakarta, di Bandung pun demikian adanya. Kalau ada teman yang ingin main, ia akan mengajak makan di suatu tempat ketimbang rumah sendiri. Diajaknya ke tempat-tempat makanan yang bisa menghabiskan Rp. 100.000 per orang, eksplorasi makanan mahal (setara kelas menengah ke atas) yang belum pernah dikecapnya. Kalau uangnya sedang menipis, komprominya adalah makan di tempat yang agak murah namun tetap cozy.

Ia jadi berpikir bahwa ada untungnya kebiasaan ini hadir saat ia sudah punya penghasilan sendiri. Artinya, ia menghabiskan uangnya sendiri dan menanggung sendiri akibatnya. Karena sepertinya budaya makan-makan cantik di tempat fancy baru hadir di tahun-tahun belakangan (saat tempat makan semakin merebak) dan dikonsumsi oleh anak muda. Si monyet sering melihat kaum pelajar dan mahasiswa yang makan cake dan kopi yang mungkin menghabiskan sekitar Rp. 50.000. Bayangkan jika mereka masih meminta uang ke orang tua, kasihan sekali jika orang tua harus diperas untuk gegayaan. Mungkin orang tua mereka mampu. Tapi orang tua monyet tidak. Mungkin saat itu monyet akan gigit jari saja.

Di dekat tempatnya tinggal, ada sebuah pusat perbelanjaan--semacam pusat grosir dan eceran yang menjual baju-baju tipis, berantakan, dan murah--tentunya ditujukan untuk kalangan kelas menengah ke bawah. Tempat ini juga penuh dengan monyet-monyet yang berpesta pora berbelanja terutama di awal bulan dan akhir pekan. Mereka bersenang-senang menurut golongan dan kemampuannya. Makanan fancy pun ada seperti roti dan donat yang mahal, itu pun tetap laku dan penuh. Ayam goreng mahal itu tidak pernah kosong meski becek sehabis hujan dan terkesan kumuh. Barang abal-abalan seperti tas palsu dan sepatu buaya KW sekian juga tetap diburu.

Wogh.

Selamat datang di hutan dimana para rajanya mengambil keuntungnya sebanyak-banyaknya di lahan basah karena penghuni hutannya doyan membeli apa yang dijual. Sayangnya, si monyet juga termasuk. Ia sah terkapitalisasi.

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba