Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Faux médicaments

Pemeran seni dengan tema obat-obatan palsu yang menjadi fenomena dan berbahaya bagi pemakainya rasanya baru saya dengar. Pameran yang kali pertama saya datangi ini menghadirkan 20 seniman dari berbagai negara yaitu Kamboja, Indonesia, Laos, Thailand, dan Vietnam. Mereka semua memberikan perspektif tentang fenomena tersebut dan menuangkanya melalui karya dari foto, lukisan, hingga kolase.

Pameran ini diselenggarakan oleh IFI yang bekerja sama dengan Galeri Soemardja, Bandung, hingga tanggal 22 Desember. Beruntung bisa melihat pameran ini karena bisa melihat karya seniman dari luar Indonesia sehingga mungkin sedikit banyak bisa mengetahui gaya atau rasa karya seniman negara tetangga. Aduh, kalimatnya njlimet. Ya, kira-kira begitu.

Berikut saya tampilkan beberapa karya, sisanya ada di-Facebook saya (bukan promosi):

Sokuntevy Oeur, Apathy, Kamboja

Sukuntak Pietak, Counterfeit medicine sellers are murderers, Kamboja

Leang Seckon, Poisonous Flower, Kamboja

Hongsa Khodsouvan, Dangers of fake medicine, Laos

Iwan Effendi, Mbok Jamu, Indonesia
Dari contoh beberapa karya di atas, ada beberapa yang tidak saya sukai karena bentuknya seperti poster kampanye atau poster film yang akan tampil di bioskop yang dicat ulang menggunakan tangan, misalnya karya Sukuntak Pietak dan Hongsa Khodsouvan yang melihatnya mengingatkan pada gambar-gambar yang ada di Puskesmas.

Selain yang tidak digemari, tentunya saya menemukan karya kesukaan yaitu karya Leang Seckon karena begitu detil dan lukisannya memiliki tesktur. Bagaimana tidak, Leang Seckon memasukkan renda kain yang diisi dengan bungkus obat-obatan yang ada di dalamnya. Selain itu, bunga/matahari berisi dengan lukisan hewan di atas canvas yang dijahit di atas renda. Wow. Dari Indonesia sendiri, saya suka dengan lukisan Iwan Effendi karena--bagi saya--ia tidak menerjemahkan bahaya fenomena obat palsu secara harfiah seperti beberapa yang lain. Juga ia memakai obat tradisional Indonesia: jamu.

Tunggu sebentar, apakah ini Iwan Effendi yang juga suami dari Ria Pappermoon Puppet? Karena jika iya, Iwan Effendi yang dimaksud pernah membuat kotak musik buatan tangan yang ditampilkan di s.14, Bandung, yang videonya saya rekam di YouTube.

Selain itu, di pameran ini juga saya pertama kali melihat sebuah foto perempuan telanjang yang ditampilkan oleh Adhya Ranadireksia dalam karyanya yang berjudul The Fate #1 and The Fate #2. Di foto The Fate #1 terdapat seorang perempuan yang berbaring di atas meja yang tubuhnya diinjeksi dengan banyak infus sementara di foto The Fate #2, sosok perempuan berubah menjadi tengkorak (dengan posisi sama) yang masih dibelit dengan infus. Saya suka dengan idenya. Menarik.

Sejauh ini, saya menikmati pameran Faux médicaments: Seni Memberantas Obat Palsu karena banyak karya yang bisa diamati dari dekat karena beberapa karya "poster Puskesmas" pun memberikan detil-detil kecil dan mendalam.

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba