Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

#housemate

Delapan bulan di Jakarta, saya tinggal bersama #housemate. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin usianya sekitar awal 30. Walau saya tinggal di kosan perempuan, kamarnya bersebelahan dengan kamar saya karena ia bukan orang lain melainkan adik/kakaknya dari mbak kos (yang juga masih muda). Saat masuk kosan pertama kali di bulan Januari 2012, mbak kos menanyakan apakah saya keberatan atau tidak dengan keberadaan laki-laki. Saya jawab tidak--lagian saya tidak mau tinggal sendirian di lantai dua.

Kehadirannya dari suara cukup menarik minat saya untuk memperhatikan. Apalagi ketika diri merasa takut, pendengaran menjadi lebih awas. Saya jadi memperhatikan langkah kaki saat ia naik tangga, buka pintu, serdawa, menyalakan keran air kamar mandi, berbicara di telepon dengan pacarnya, dan seterusnya. Saya melihat barang-barangnya, pakaiannya, dan kebiasaannya yang kadang tidak cocok dan bikin sebal. Suara dan pengamatan melalui mata yang sangat sekilas itu saya tuliskan dalam sebuah blog yang khusus bercerita tentangnya. Namun blog tersebut saya tutup karena saya sebal dengan orang-orang yang kelewat usil ikut-ikut mengurusi urusan etis atau tidak menuliskan kisah seseorang tanpa diketahui orang tersebut.

Selama delapan bulan itu, obrolan kami tidak jauh dari "halo, apa kabar?", "mau berangkat kerja ya?", "wah, tumben pulang cepet" dan lainnya. #housemate tipe pria Jawa yang mudah sungkan dan tidak menatap mata lawan bicara saat mengobrol. Selain itu tampaknya ia juga tidak minat untuk melebarkan sayap obrolan walaupun saya menggebu-gebu ingin punya teman di kosan. Beberapa bulan pertama, ia bahkan tidak pernah panggil nama saya (walau ia tahu dari mbak kos). Dia mulai panggil "mbak Nia" beberapa bulan terakhir sebelum saya pindah, itu juga saya jarang berada di Jakarta.

Pindah?

Iya, saya pindah. Sekarang kantor saya sudah tidak di sana sehingga saya harus pindah kosan. Bahkan saya sudah kembali ke Bandung. Oleh karena itu, saya menuliskan hal ini sebagai cerita terakhir tentang #housemate. :)

Pada tanggal 8 Januari 2013, saya berangkat dari Bandung ke kosan untuk membereskan barang-barang. Saya sampai di kosan sekitar pk. 16:00. Begitu buka pintu, saya melihat pintu ruang tv dan pintu kamarnya terbuka. Oh, berarti ia sedang tidak bekerja (karena biasanya ia pulang sangat larut). Setelah tiga minggu ditinggalkan, akhirnya saya mendapatkan kesempatan beres-beres kamar. Untungnya debunya tidak tebal-tebal amat karena teman kantor saya sempat menginap di kamar saya. Ia juga melaporkan bahwa #housemate tidak pulang-pulang selama ia di sana.

Saya sibuk di kamar, #housemate juga. Malamnya, saya keluar untuk beli makan. Saat saya akan naik ke lantai dua, saya mendengar suaranya dari dapur rumah utama. Saat saya sedang cuci tangan di tempat cucian, dia naik ke lantai dua dan menemukan saya lalu ia berkata, "Hey, mbak Nia ..." Saya balas sapaannya. Setelah itu, saya masuk kamar dan ia menjemur pakaian. Sudah. Sekian. Itu komunikasi terakhir saya dengan #housemate karena besoknya saya pindahan ke Bandung.

Kenapa #housemate harus pakai "#" ketimbang "housemate" saja? Penceritaan tentang dia ini awalnya bermula dari gunjingan personal di Twitter untuk dibagi bersama teman-teman saja. Ternyata teman-teman saya menyambut positif. Saat saya pulang ke Bandung atau mengobrol di mana saja, mereka selalu bertanya, "#housemate apa kabarnya?" dan mereka juga mulai penasaran dengan mukanya. Tagar dibuat untuk memudahkan pencarian saat #housemate hidup di internet. Jadi, buat saya, #housemate bukanlah orang yang saya ingat-ingat ketika saya berada di kehidupan nyata karena ia hanyalah tagar di dunia maya. Dia ada, tapi dia tidak mengada di dunia saya.

Apa deh.

Oke, sekian. Cerita tentang #housemate resmi tamat di hari ini.

See you when I see you, mate! :)


Comments

  1. Nia, tau-taunya si #housemate itu agen dari luar angkasa, makanya dia harus jaga jarak dari elu supaya identitasnya nggak ketauan ...

    Jengjengjeng ...

    ReplyDelete
  2. Haha iya. Kalo keluar kamar, dia baru deh pake topeng manusianya. Aakk.

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba