Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

#8: Keterasingan

Jadi ceritanya dua minggu belakangan ini si monyet kembali ke Jakarta dalam durasi yang pendek-pendek karena ada urusan pendek pula di rimba Jakarta Barat. Beberapa kali menyempatkan main ke museum namun tidak bisa karena macet yang menggila (apalagi ada musibah banjir yang bikin Jakarta lumpuh). Namun untungnya, saat bermalam di kostan kawan satu spesies di dekat kantor Kompas-Gramedia, si monyet punya waktu luang untuk jalan-jalan.

Sebelum agenda jalan-jalan dimulai, charger handphonenya rusak padahal baterainya sudah menipis. Ia memutuskan untuk mengontak Niken, teman sepermainan yang juga doyan jalan-jalan, untuk bertemu. Monyet bilang tentang keperluannya untuk membeli charger, maka Niken membawa si monyet ke Sarinah karena di sana tersedia toko elektronik serba ada. Di sana ada beragam charger, USB port, dvd player, dan banyak lagi. Bahkan alat make up juga ada!

Walau tidak dapat benda yang diinginkan karena colokkan yang tidak akur, mereka pergi makan dan minum saja. Niken mengajak ke Melly's Garden, sebuah bar dan restoran yang terletak di belakang Sarinah. Suasananya mengingatkan pada Erla's Mexican Cafe yang ada di Bandung. Si monyet hanya memesan Tom Yam, nasi, dan es kopi. Sayangnya ia sedang tidak minum. Hihi. Sayangnya waktu mereka tidak lama karena rimbanya si monyet jauh dari tengah hutan sehingga ia harus buru-buru pulang.

Dalam perjalanan pulang, lagi-lagi monyet terkesima dengan kota besar yang gemerlap ini. Dulu ia sering merasa terasing dan sendirian--seperti berpisah dengan teman yang mayoritas di pusat atau selatan lalu ia pulang ke kostan. Jauh dan sendiri.

Busway baru dengan pendingin ruangan yang masih kelewat mengigit berisikan monyet-monyet asing lain yang berwajah datar membelah jalanan besar. Di dalam busway, anehnya, ia menyadari jeda sebulan di suaka membikin dia rindu dengan asingnya rimba Jakarta. Agaknya keterasingan memberi ia kesempatan untuk bersama dirinya sepenuhnya, untuk mengalami, meresapi, dan memaknai segalanya sendiri. Keterasingan membuat ia tidak berbagi.

Keterasingan seperti obat. Juga seperti detoks, ia menetralkan. Namun jika sudah netral atau sembuh, ia tidak dibutuhkan.


Comments

  1. Sepakat deh! Sendirian di keramaian adalah waktu yang tepat untuk lebih mengenal diri sendiri dan memaknai segala hal ^^

    ReplyDelete
  2. Nia, foto "Benteng yang Menyangga" kontras warnanya keren banget ...

    ReplyDelete
  3. Wah, oh ya, padahal itu engga diedit apapun..

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba