Skip to main content

#10 Fatamorgana


Sebenarnya tulisan tentang petualangan si monyet kali ini sudah lama terjadi. Yaitu kisaran minggu pertama di bulan Maret, ia melakukan tugas liputan pertama saat akhir pekan. Ia harus wawancara di sebuah tempat yang terdapat di sebuah mall besar daerah Jakarta Pusat. Sebetulnya ini adalah kali pertama ia masuk mall high end selama ia berpetualang di rimba Jakarta. Tentu saja ia terkagum-kagum dengan hal yang ia lihat.

Semua orang di sana seperti mau pergi ke pesta. Para monyet betina menggunakan gaun pendek, sepatu bertumit tinggi, rambut yang ditata rapi dan teratur, mengenakan make up, dan lainnya. Tipe gaya yang biasa monyet lihat kalau pergi ke pernikahan. Para monyet muda berjalan sambil menenteng tas belanjaan dengan merk kenamaan dunia. Monyet jadi bertanya dalam hati orang tua mereka kerja apa sampai bisa kaya raya?

Hal lain yang paling sering dilihat adalah orang tua yang mempekerjakan monyet asuh untuk menggendong anaknya sementara mereka melenggang tanpa beban sambil bergandengan tangan. Anaknya tertidur digendongan pengasuh. Kenapa harus orang lain yang menyentuh anaknya penuh kasih? Apakah mereka takut pakaiannya kusut? Enggan capek? Tidakkah mereka lupa proses membuat anaknya? Bukankah sama-sama melelahkan?

Di saat yang berbeda, monyet jalan-jalan dengan Icha dan Ceu-ceu. Icha dan Ceu-ceu adalah teman sepermonyetan saat si monyet kuliah di suaka. Untungnya mereka berdua sama-sama sedang merimba di sini, jadinya bisa jalan-jalan bersama. Di Sabtu sore yang cerah, mereka memutuskan untuk main ke sebuah mall di daerah Jakarta Selatan. Mall ini memang tidak semewah mall yang monyet kunjungi sebelumnya. Namun ia melihat fenomena menarik yang lain: banyak anak monyet yang dirasa sudah besar dan mampu berjalan namun mereka ditempatkan di stroller dengan dot yang masih di mulut.

What the f-.

Realita si kaya dan si miskin sama-sama mengejutkan. Keduanya berjalan beriringan. Dengan konsekuensi perbuatan masing-masing kalangan.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…