Skip to main content

19 April


"Ibu sayang kamu!" begitu bunyi pesan yang masuk ke WhatsApp yang saya pikir datangnya sekitar tadi pagi. Pesan berikutnya adalah jeritan kebahagiaan bahwa ia sudah bisa menggunakan WhatsApp (padahal saya tidak ingat kapan ia memiliki smartphone, selain telepon genggam Cina yang jumlahnya empat itu.)

Lalu saya terbangun. Ternyata barusan saya memimpikan tentang pesan sayang yang diberikan ibu saya. Oh, ibu saya ulang tahun hari ini. Teringat tadi pagi sekali saya sudah nelepon untuk mengucapkan ulang tahun di antara ambang alam sadar dan mimpi.

Selama saya siap-siap ke kantor, saya memikirkan bahwa saya tidak pernah ingat bahwa ibu saya pernah bilang "Mamah sayang Nia" dan seterusnya. Ibu saya bukan tipe orang yang sayang kemudian diungkapkan dengan kata-kata. Ibu adalah tipe show, don't tell. Tapi bukankah terkadang orang ingin mendengar secara lugas apa yang orang lain rasakan? Bukan tanda-tanda atau perilaku implisit yang walaupun sudah jelas diketahui bahwa itu adalah bentuk kasih sayangnya. Ungkapan itu perlu.

Sepertinya saya belajar tidak mengungkapkan kasih sayang dari ibu saya. Saya mungkin tidak bisa mengungkapkan ke teman-teman kalau saya kangen atau menginginkan keberadaan mereka di sini. Saya cuman bilang, "Eh, gue ngimpiin elo semalem, lho. Kita main bareng." atau sekedar ajak ngobrol sedikit-sedikit dan random. Ngomong kangen adalah sebuah progress. Bahkan dulu, kalau dibilang I Love You oleh lawan jenis, terdengarnya agak geli. Bukan karena tidak suka, mungkin karena tidak biasa saja.

Saya sering rindu ibu saya selama saya di Jakarta. Kadang ditahan saja yang bikin mata bengkak di pagi harinya. Kalau ibu saya sms atau telepon, alih-alih kata kangen yang keluar, saya malah jawab smsnya dengan biasa-biasa saja. Kalau sedang nelepon, saya hanya aktivitas keseharian dan hal yang tidak penting seperti: tadi Bandung hujan nggak, Ma?

Di ulang tahunnya ke-60, saya berharap ibu saya selalu sehat. Ia pernah kena stroke dan saya tidak tanggap menyadarinya sehingga penanganannya telat. Saya menyesali ketidakpekaan saya terhadap ibu. Kemarin saya sempat wawancara dokter syaraf tentang stroke dalam rangka urusan pekerjaan. Di sana disebutkan bahwa lima penyebab utama stroke adalah hipertensi (ini juga penyebab ibu saya kena stroke), orang yang pernah kena stroke sebelumnya, rokok, jantung, dan diabetes melitus. Mudah-mudahan ibu saya selalu sehat.


Semoga Tuhan menyayanginya sebagaimana ia menyayangiku. Menjaganya meskipun aku jauh. 

Selamat ulang tahun.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…