Skip to main content

Menggila Bersama Sightseers

Jika kemarin sudah mengharu biru dalam drama, sekarang saya memilih Sightseers (2012) untuk merasakan black comedy thriller ala British yang disajikan sekitar 98 menit. Dibintangi oleh Alice Lowe dan Steve Oram yang sudah terbiasa berada di dalam genre komedi, film ini menawarkan humor gelap yang dibumbui dengan pembunuhan berdarah, kelucuan implisit tanpa adegan yang sengaja dibuat untuk terbahak, dan cerita yang baiknya tidak usah dipikirkan.


Berkisah tentang Tina yang diajak liburan bersama oleh kekasihnya, Chris, dalam rangka ajakan untuk mengenal dunia sang kekasih. Liburan panjang mereka dilalui dengan tidur di karavan, menginap berlama-lama di suatu tempat, dan datang ke museum dan tempat bersejarah. Di tempat pertama yang mereka kunjungi, Chris terusik dengan salah satu turis yang membuang sampah sembarangan di dalam kereta. Saat mereka akan pergi dari tempat tersebut, tanpa sengaja pria berjanggut dan berkumis lebat ini menabrak dan menggilas turis yang tidak disukainya. Kejadian ini membuat liburan panjang mereka menjadi tidak biasa.

Dengan alasan tidak bersalah, sepasang kekasih ini dibebaskan oleh polisi dan melanjutkan liburan dengan noda darah di ban mobil. Saat berada kumpulan para karavan yang menginap di suatu lapangan luas, mereka bertemu dengan sepasang suami istri menengah ke atas yang sedang berlibur. Saat itu sang istri membanggakan suami yang sudah menulis tiga buku perjalanan--sama seperti Chris yang berencana membuat buku juga. Karena merasa tersaingi, Chris membunuh sang suami saat berjalan-jalan dengan Banjo, anjing mereka, dengan batu tajam yang dipukul ke kepalanya. Chris tidak lupa mengambil kamera si empunya yang sudah mati.

Pembunuhan juga terjadi saat mereka berada di tempat wisata ketika Banjo (anjing putih ini ikut bersama mereka dan kebetulan Tina sangat ingin anjing yang mirip dengan peliharaannya terdahulu, Poppy, yang sudah mati tertusuk jarum rajutan) buang hajat dan Tina enggan membersihkannya. Ia ditegur dengan pengunjung lain karena dinilai merusak sejarah dan estetika tempat. Karena terjadi keributan kecil, Chris menghampirinya dan Tina mengatakan hal-hal yang tidak dikatakan si turis dalam rangka memprovokasi. Di depan mata Tina, Chris memukuli turis tersebut dengan kayu lalu menghantam kepala turis tersebut ke batu bersejarah.

Pembunuhan juga tidak dilakukan oleh Chris saja, tetapi Tina jadi ikut-ikutan. Ia membunuh calon pengantin perempuan yang sedang pesta lajang dan mencium Chris sebagai tantangan, orang yang tidak bersalah dan sedang berjoging karena saat itu ia kesal dengan kekasihnya, dan membunuh temannya Chris karena tidak mau diajak make out. Untuk yang terakhir ini, Chris agak kesal karena ia sudah klik dengan orang tersebut. Walaupun sempat adu mulut dan saling cekik, mereka akhirnya bercinta, membakar karavan, lalu pergi seolah tidak terjadi apa-apa.

Perubahan karakter Tina yang inosen menjadi seperti pembunuh seperti Chris adalah bentuk folie à deux yang diniatkan dalam film ini. Folie à deux adalah kegilaan yang terjadi berdua dimana tertularnya delusi yang dialami seseorang ke orang lain yaitu delusi yang dialami Chris kepada Tina. Tentunya kegilaan ini membuat liburan mereka keluar dari rencana awal.

Jika saat menonton ini timbul pertanyaan seperti "Kok dia tidak merasa bersalah?", "Kok tidak tertangkap polisi?", atau "Kenapa harus dibunuh?", sebaiknya dilupakan saja karena Sightseers bukanlah film yang serius. Nikmati keganjilannya sekaligus ekspresi Tina yang kadang bikin pengen jitak kepalanya. Atau misalnya saat Chris menyebut nama anjing putih mereka dengan Banjo sementara Tina tetap memanggil Poppy karena alasan personal, Chris berkata, "Kamu jangan menyebut Poppy di depannya, nanti dia (anjing) mengalami krisis identitas!"

Di penghujung film, Sightseers memberikan sebuah kejutan yang membuat saya terperangah sambil bilang "anjrrriiiiitttt!!" kemudian film habis namun tidak menyisakan rasa sebal, menggantung, atau wtf moment karena menyebalkan. Tidak akan saya bocorkan. Namun akhirnya klimaks. Puas.

Crazy duo

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…