Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Drip On Coffee

Halo, para penikmat kopi.

Duh, terlalu formal. Padahal postingan ini ditujukan untuk mereka yang suka minum kopi tanpa menjadi ahli dalam cara membuat dan membedakan rasa (belum apa-apa udah defense). By the way, tadi sore saya mendapatkan oleh-oleh dari teman kantor yang baru pulang dari Jepang. Ia memberi sekitar lima bungkus kopi yang di dalamnya ada saringan untuk coffee dripper. Semuanya ditulis dalam bahasa Jepang sehingga saya tidak mengerti perbedaan kopi satu dengan kopi lainnya. Ya sudah, saya pilih berdasarkan warna saja yaitu warna hitam. Lagipula, bungkusan ini hanya satu-satunya. Lebih eksklusif gitu.

Jadi pertama, buka bungkusnya dari cara yang sudah ditentukan di belakang bungkusan. Kedua, ambil coffee bag dan rentangkan di bibir cangkir. Ketiga, seduh pakai air panas dan diamkan hingga tetesan berakhir. Kalau tidak salah airnya dimasukkan sebanyak 140ml dan ditunggu selama 2-3 menit.


Menurut pendapat sotoy saya, kayaknya ini kopi robusta deh karena rasanya yang cenderung asam. Tenang, bukan kopi kadaluarsa kok karena sebagaimana yang tertera di belakang bungkusan, tanggal kadaluarsanya adalah 16 April 2014. Kalau dari yang saya baca, dibandingkan arabika, robusta memiliki kadar kafein yang lebih tinggi dan kopi seperti ini banyak dijadikan espresso untuk dibuat beragam olahan. Meminum kopi di atas mengingatkan akan kopi-kopi instan yang dijual di pasaran.

Oh ya, saya jadi ingat pengalaman saya minum kopi turki. Rasanya tidak enak karena seperti mengandung rempah-rempah. Selain itu juga kopi dari Australia rasanya tidak semenendang kopi kita. Walaupun baru mencoba hanya beberapa asal kopi yang ada di Indonesia, saya pikir kopi dari tanah air ini tidak kalah enaknya.

Bagi para penikmat kopi atau mengamat kopi beneran, saya tunggu komentar dan berbagi pengalamannya ya. Terutama koreksi jika ada yang salah informasi dalam postingan di atas. ;)

Comments

  1. ada rekomendasi ndak mbak Nia? kalau di sekitar Jakarta beli dimana?

    keep posting, cheers :)

    ReplyDelete
  2. Haloo.

    Wah, saya kurang tahu, mungkin bisa dicoba di mini market/retail Jepang seperti Mini Stop yang ada di Bintaro.

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba