Skip to main content

Away from Her

Diambil dari sini
Kalau ada yang sedang kesulitan untuk melepaskan seseorang yang disayang, niscaya film ini akan membuat kamu nangis berdarah-darah. Atau tidak. Namun bagaimana tidak menyedihkan, film Kanada yang dibuat tahun 2006 ini berkisah tentang sepasang suami istri lanjut usia yang terkena masalah hubungan interpersonal di usia pernikahan yang senja. Masalah terjadi ketika Fiona terkenal Alzheimer's sehingga harus dirawat di nursing home. Di sana Fiona mulai kehilangan ingatannya tentang sang suami dan mulai membangun hubungan yang dekat dengan pasien lainnya.

Saat pertama kali Grant berkunjung ke nursing home untuk melihat-lihat, sang penyelia berkata bahwa ia dan istrinya tidak boleh berkomunikasi dalam bentuk apapun selama satu bulan agar istrinya dapat beradaptasi dengan baik. Awalnya ia sempat ragu dan menyatakan keberatan kepada istrinya karena mereka berpisah selama satu bulan lamanya. Lalu Fiona menenangkan, "Thirty days isn't such a long time after 44 years."

Setelah lama berpisah, Grant menjenguk Fiona untuk pertama kalinya. Sebelum berangkat, ia mematut diri di cermin seperti saat ia akan pergi berkencan dulu. Saat sampai di nursing home, dengan mata kepalanya sendiri, Grant harus melihat istrinya mengurus Aubrey, salah satu pasien pria, dengan penuh kasih sayang, bersedih saat Aubrey itu tidak ada, dan tidak mengindahkan kehadiran Grant yang begitu bertekad dan datang setiap hari menjenguk istrinya. Grant yang lama kelamaan kesal berkata bahwa ia adalah suaminya dan bertanya mengapa ia bersikap demikian kepada Aubrey. Lalu Fiona menjawab, "Karena dia tidak membuatku pusing." Ini dikarenakan Grant yang suka mengenang dan berusaha membuat Fiona ingat pada hal-hal yang sudah dilupakan.

"I never wanted to be away from her. She had the spark of life."

Film ini mengingatkan pada Vergiss mein nicht (Forget Me Not) dimana tokoh perempuan sama-sama mengalami Alzheimer's. Bedanya Away from Her adalah kisah fiktif yang diangkat dari cerita pendek The Bear Came Over the Mountain, sementara film jerman tersebut adalah film dokumenter. Kedua film tersebut sama-sama menceritakan bagaimana reaksi keluarga saat salah satu anggotanya terkena penyakit tersebut. Mungkin keberadaan Sarah Polley sebagai sutradara perempuan dapat membuat film Away from Her menjadi lebih sentimentil. Mulai seksis. Hehe.

Selain dialog dan ceritanya, saya sangat menyukai wajah Julie Christie yang begitu cantik. Bibirnya dipoles lipstik nude serta rambutnya yang putih keabuan itu disanggul dengan cantik atau dibiarkan tergerai. Saya jadi berencana untuk tidak mengecat rambut ketika ubanan nanti karena rambut perak itu keren sekali. Hehe.



Ini adalah salah satu dialog yang paling saya suka ketika Grant duduk di kejauhan sambil memandang Fiona yang sedang dekat dengan Aubrey. Tiba-tiba ada seorang remaja yang duduk di sampingnya dan bertanya mengapa ia tidak berada dekat dengan istrinya:

"x: So why aren't you sitting with her, then?
y: Just learned to give her some space. She's in love with that man she's sitting with. I don't like to disturb her."

Kemudian pikiran saya mulai mengawang-awang. Apakah setiap orang pasti akan jenuh namun sejatinya mereka tidak ingin berpisah dengan pasangannya? Apakah meskipun hebatnya sebuah perseteruan, pasangan adalah sebuah rumah yang menjadi tujuan seseorang untuk pulang? Apakah cinta sebertahan lama yang utopis ini betul-betul ada? Dan tidakkah melepaskan adalah hal yang sulit dilakukan tapi sekaligus melegakan? Pertanyaan-pertanyaan bergaung di ruang kosong sampai kita betul-betul melewatinya.

Comments

neni said…
uuuuhhhh...speechless... (neni)
mak beL said…
cinta itu pilihan, demikian jg dengan melupakan *jrengggjrengggjrengg
Nia Janiar said…
Ouch... bener juga!

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…