Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Late Marriage

Keluarga yang memaksa anggotanya untuk menikah dan mengusahakan perjodohan adalah tema yang sudah biasa. Hubungan yang tidak direstui orang tua atau pacaran dengan seorang janda juga bukan hal yang aneh. Hal-hal yang dekat dengan kehidupan ini menjadi tema dari film Late Marriage (2001) besutan Dover Koshashvili. Film ini berkisah tentang Zaza, seorang pria berusia 31 tahun yang berasal dari keluarga imigran Yahudi Georgia yang berpegang teguh pada tradisi, dijodohkan dengan beragam perempuan karena usia serta keinginan orang tua untuk menimang cucu.

Perjodohan Zaza tidak pernah berhasil. Ternyata ia memiliki hubungan dengan seorang janda beranak satu bernama Judith. Hubungan ini membuat keluarga besarnya marah. Sang ayah membawa ibu, nenek, adik, paman, hingga istrinya paman ke rumah Judith yang berusia tiga tahun lebih tua dari Zaza. Dengan baik-baik, pada awalnya, sang ayah menyatakan keberatan kalau anaknya berhubungan dengan orang yang lebih tua. Sementara ayahnya berbicara, para wanita sedang menginvestigasi dapur Judith. Mereka marah saat menemukan oven mereka berada di rumah perempuan yang disebut-sebut pelacur ini. Dialog seperti "Gara-gara kamu, kami tidak memiliki oven selama dua hari" atau "Selama di rumah kami, oven ini tidak pernah sekotor ini" membuat film ini menjadi ... lucu.

Pertengkaran semakin memanas ketika paman Zaza mengambil samurai dan menodongkan ke leher Judith. Namun Judith, tanpa menunjukkan rasa takut, kira-kira berkata, "Kamu bukan orang pertama yang mengarahkan pedang itu padaku." Walaupun membela Judith, sebenarnya Zaza lebih pasif dan tunduk pada keluarganya. Ia pun memilih keluar dari apartemen Judith dan memutuskan hubungan--walaupun tidak lama kemudian ia datang lagi seolah-olah tidak ada apa-apa. Namun Judith, dengan tegarnya, menyuruh Zaza keluar. Begitu Zaza sudah tidak ada, barulah ia menangis. Like a lady!

Singkatnya Zaza menikah dengan orang lain yang diinginkan orang tuanya. Pada resepsi pernikahan, Zaza sempat meracau seolah-olah akan membikin malu pengantin perempuannya. Tetapi tidak. Sial, saya greget juga. Tapi kalau sesuai dengan kemauan saya (bahwa Judith tiba-tiba muncul), cerita ini jadi biasa saja.

Secara keseluruhan saya suka dengan film ini. Late Marriage adalah film yang ringan, dekat dengan keseharian, dan menggelitik. Untuk mereka yang di bawah umur atau berniat nonton bersama komunitas, sebaiknya diurungkan karena adegan seks disuguhkan secara frontal dan cukup menggiurkan karena tampak natural akibat dialog-dialog manis dan adegan lucu yang terselip diantaranya. Heheh.

Comments

  1. hhmmmm. sungguh sgt deket dgn kehidupan sehari-hari yaah... :)---neni

    ReplyDelete
  2. Haha, tampak familiar atau gimana nih? :p

    ReplyDelete
  3. Ending begini nih yg aplikatif bgt...ga ngimpi ala hollywood ^^

    ReplyDelete
  4. buset...moga aja gw gak senasip sama zaza...amin-amin-amin :nosebleed:

    ReplyDelete
  5. blog yang menarik teh,saya ngikutin..saya jarang nemu blog yang gak copas, orisinil tapi diupdate reguler,....salam kenal teh..

    ReplyDelete
  6. @Acep: Hahaha, amiin.

    @Aris: Wah, salam kenal juga. Sering2 main ke sini yaa..

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba