Posts

Showing posts from October, 2013

Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

One Day Escape

Image
Kali ini saya jalan-jalan ke Pulau Onrust, Pulau Cipir, dan Pulau Kelor. Ketertarikan pada ketiga pulau itu berawal ketika melihat foto di Facebook teman saya. Rupanya di sini ada benteng dan reruntuhan bangunan rumah sakit. Karena saya tertarik dengan gedung peninggalan sejarah, tanpa berpikir panjang, saya mencari paket wisata untuk pergi ke sana. Harganya murah yaitu Rp89.000 untuk satu hari. Ada yang lebih mahal karena pakai makan siang. Ah, saya bisa bawa bekal kok dari kostan. Dan rasanya kalau tiba-tiba ada rencana liputan atau tidak jadi, biaya tersebut jadi nothing to lose lah ya. Hahay. Sayangnya rencana eskapis ini jadi sedikit terganggu karena teman trip saya ternyata ikut. Wah, rencana untuk melarikan diri untuk jadi tidak terlihat jadi gagal. Tapi itulah enaknya kalau suka jalan-jalan. Kita akan kenal orang baru, baik kenalan sendiri atau temannya teman, dan orang itu akan menjadi teman kita untuk seterusnya. Untungnya ia pergi bersama keluarganya. Saya pergi dari kos

Mangrove Forest Touchdown!

Image
Sebelum mulai bercerita, belakangan ini saya rajin menulis judul tulisan menggunakan Bahasa Inggris. Sangat bertentangan dengan konsep blog yang menjunjung Bahasa Indonesia (yeah, right). Mungkin ini karena terbiasa di kerjaan yang mengharuskan menulis judul dalam bahasa asing--karena permintaan klien--dalam artikel majalah gaya hidup kelas atas. Tapi penulisnya sih tetap berada di kelas menengah. Kadang menengah ke bawah dari tanggal 5 sampai 28. Oke. Jadi, pada suatu hari saya bertugas untuk meliput acara Miss Earth Indonesia 2013 yang diselenggarakan di salah satu rumah sakit daerah Pantai Indah Kapuk (PIK). PIK memang terkenal sebagai daerah pinggir pantai yang dilakukan pengembangan perumahan untuk kalangan atas dan pertokoan. Kalau kamu ke daerah ini, maka kamu akan melihat rumah-rumah besar, jalan umum yang menggunakan paving block , serta restoran dan cafe mahal. Intinya, ini adalah lingkungan orang kaya Jakarta bagian utara. Pendopo di pinggir danau. Intermezzo. Saya

Apartment? Hell No!

Jadi ceritanya saya tidak punya apartemen tapi sedang berandai-andai jika saya tinggal di apartemen. Imajinasi ini muncul setiap malam di kamar kostan seluas 3x3 meter. Saat akan berangkat tidur, mata saya melihat langit-langit dan dinding kamar kostan yang bentuknya kotak menjemukkan. Sayangnya kalau sudah jemu begitu, saya tidak bisa keluar kamar karena di depan kamar hanya ada lorong dan tangga. Pikiran bisa istirahat sebentar untuk melihat jemuran yang ada di lantai bawah. Setelah itu kembali ke kamar. Berada di dalam kamar kostan tanpa ruangan lain rasanya seperti di penjara. Saya bisa mati bosan kalau kelamaan berada di sana. Apalagi di depan kamar tidak ada pohon--sebagaimana kamar di rumah Bandung. Rasanya romantisme melamun sambil menatap langit untuk cari inspirasi itu nihil. Saya teringat ketika saya mengunjungi apartemen teman beberapa waktu yang lalu. Rasanya sepi begitu melihat lorong yang putih dan kaku, berhiaskan pintu-pintu, dan tanpa interaksi. Dingin. Saya tidak

Long Distance Relationship

Hubungan jarak jauh itu hubungan yang tidak masuk akal. Bagaimana tidak, sepasang kekasih menjalin sebuah hubungan yang hanya dilakukan via telepon, email, sms, chat, dan pertemuan sekian minggu atau bulan sekali, tanpa bisa terlibat secara langsung dengan ia dan kehidupannya. Bahkan jika salah satunya memiliki acara lain sehingga jadwal ketemuan pun bentrok, maka waktu untuk bertemu lagi pun akan semakin lama. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah dua orang yang jelas-jelas beda kota masih mau-maunya menyepakati untuk melakukan hubungan yang sangat mengedepankan hal-hal serius seperti komitmen dan kejujuran (walaupun setiap hubungan non jarak jauh juga harus melakukan hal itu, tapi jarak membuat segalanya jadi berlipat). Berada di balik gagdet membuat kita tidak tahu betul apa yang terjadi di sana. Kalau mereka bohong pun kita tetap percaya. Mereka bilang sedang sibuk bekerja atau sedang bromance bersama teman-teman atau memang betulan jalan sama lawan jenis lain, kita tetap perca