Skip to main content

Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya

Konon katanya begitu. Tapi saya dan ibu tampak jauh. Secara karakter, sifat kami sangat berbeda. Layaknya langit, ia begitu terang benderang. Ia begitu santai menjalani keseharian. Ia juga begitu ringan. Ia jarang mengekspresikan emosi sedihnya (berbeda dengan sang anak yang banyak mengeluh terutama saat sedih dan merasa paling menderita sedunia). Ia juga banyak bersyukur ...

Ibu tipe orang yang tidak panik. Ia juga setegar karang meski terkadang orang memperlakukannya tidak baik. Ia juga yang sering berkata, "Sudah, Nia, jangan menangis." Ia juga jarang memikirkan berlama-lama apa yang dikatakan orang--berbeda dengan anaknya yang kadang overthinking. Ia lebih banyak memberi kepada orang lain, sampai-sampai saya merasa ibu lebih sayang orang lain ketimbang anaknya sendiri.

Namun saya justru tidak ingin menjadi buah yang jatuh dekat dengan sang pohon. Saya ingin jatuh, lalu menggelinding menuruni lembah, masuk ke dalam sungai dan membiarkan diri terbawa arusnya, lalu berkelana di laut nan luas hingga lupa dengan sang induk. Lalu saat terombang-ambing di lautan, saya akan merindukan rasanya pulang.

Tingkat pendidikan ibu saya tidak tinggi. Saya tidak mau seperti itu. Melihat hal-hal buruk yang pernah terjadi pada ibu seperti perceraian dan dipandang sebelah mata oleh orang lain, membuat saya tidak ingin merasakan yang sama. Saya ingin jauh lebih baik. Ibu memiliki banyak bakat namun kurang kesempatan untuk mengembangkannya. Saya ingin mencari peluang untuk mengoptimalkan potensi-potensi yang saya miliki.

Ibu selalu merasa berkecukupan, sementara anaknya ingin berkembang hingga tidak dapat berkembang lagi.

Diam-diam akar sang pohon merambat di bawah tanah begitu luas dan dalam sehingga--sejauh apapun--sang buah akan selalu kembali pada inangnya.

Comments

Ladyinthemirror said…
Aku jg berbeda dari mama tapi ada sebagian diri saya ada di mama begitu juga sebaliknya, tentu saja kita menginginkaj lebih dibanding apa yg dilakukan dan diraih mama dan tentunya mama mendoakan dan mendukungnya

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…