Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Memperbaiki Kualitas Hidup Melalui ... Menikah?

Media sosial adalah media dimana orang bisa pamer apa saja. Baju baru, sepatu baru, makan di tempat yang fancy, mobil, rumah.. dan seterusnya. Media sosial juga bikin saya tahu update-an terbaru dari teman-teman yang tidak kenal dekat, teman-teman yang dulu dekat dan kini tidak, atau teman-teman dekat tapi kami berjauhan karena jarak.

Media sosial juga menjadi media observasi. Mereka yang rajin posting, tentu akan terlihat. Observasi jadi mengasyikkan saat mereka mengalami fase baru dalam hidupnya. Seperti pekerjaan baru, status dari single menjadi married, dan mulanya hanya hidup sendiri kini bisa memproduksi anak dari telur dan mani.. Oke, mari kita fokuskan pada mereka yang telah menikah.

Beberapa teman saya, terutama perempuan, yang telah menikah--selain unggah foto pernikahan--mereka juga memperlihatkan kehidupannya setelah menikah. Ada yang dulu saat di sekolah/kuliah tidak pernah foto di mobil lalu kini bermobil, ada yang dulu hanya jalan keliling Jawa sekarang keliling Eropa, atau ada yang dulu penampilannya biasa sekarang jadi modis. Saya jadi memikirkan apakah menikah yang memperbaiki kualitas hidup mereka?

Karena begini. Saya teringat dengan kata-kata yang klise dilontarkan bahwa menikah dapat meningkatkan rezeki sejoli tersebut. Logikanya adalah dua gaji menjadi satu. Atau logika buruknya adalah yang tadi tidak bergaji, kini berpenghasilan karena uang bulanan dari pasangan. Mau tidak mau, yang namanya rezeki berupa uang itu betulan ada, 'kan? Lalu akibat tuntutan memiliki keluarga pasca menikah membuat seseorang yang mencari nafkah bekerja lebih keras dibandingkan saat ia masih lajang? Apakah itu yang membuat penghasilannya jadi naik?

Atau jangan-jangan memang sebenarnya mereka sudah berada dari awal, tapi karena dulu tidak ada media sosial, jadinya tidak bisa ditunjukkan?

Ada enggak sih yang setelah menikah malah tambah miskin atau menurun kualitas hidupnya? Atau kemiskinan memang aib untuk tidak dipertontonkan?

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba