03 January 2014

Kamu datang dengan tenang, seperti biasa. Masuk tanpa ketuk karena aku yang membiasakanmu untuk bebas keluar masuk. Duduk, meringkuk, atau hanya memperlihatkan tekuk di keningmu--apapun kamu mau. Kamu bebas di sini.

Malam itu kamu berbeda. Tanpa kata, kamu mendekatiku lalu memegang kepalaku dengan kedua tanganmu. Perlahan, dari kepala, kamu mengeluarkan semua mimpi dan harapan yang aku punya. Lalu dalam genggaman, kamu masukkan harapan-harapan ke dalam kotak kayu kemudian beranjak keluar.

"Hey, mau dibawa kemana?" tanyaku panik.

Tanpa jawaban, kamu ambil sekop dan menggali lubang begitu dalam di pekarangan. Setelah selesai, kamu lempar kotak ke dalam lalu kamu kubur rapat-rapat. Setelah itu kamu pergi (atau pulang), aku tidak tahu.

Aku melihat gundukan tanah basah di bawah cahaya bulan. Termenung, kemudian aku paham.


Jakarta, 3 Januari 2014

Kabut, Teh Melati, Susu Cokelat, dan Bimasakti. 2017 Copyright. All rights reserved.

Dilarang menyalin dan menggunakan konten website ini tanpa seizin penulis.

Designed by Blogger