Skip to main content

The Happiness is Inside You

Entah apa yang begitu hebat dari yang namanya 'bahagia' sehingga semua orang tampak menginginkannya. Hal ini tampak begitu dicita-citakan, disematkan dalam doa, dicari melalui mesin pencari seperti '10 cara mendapatkan kebahagiaan'. Betulkah bahagia itu bisa didapat? Apakah bahagia itu sebuah tujuan?

Orang menggunakan beberapa media untuk mendapatkan kebahagiaan. Melakukan hal-hal yang disukai seperti menulis atau bernyanyi, menyetel kondisi atau situasi agar bahagia seperti liburan atau makan malam di situasi romantis, atau memenuhi tuntutan sosial agar bisa bahagia. Menikah, misalnya.

Dalam suatu sore, saya dan Andika membicarakan tentang para single yang ingin segera berpasangan atau menikah agar bahagia. Teman-teman saya yang belum berpasangan menunjukkan betapa inginnya memiliki pasangan. Atau parahnya, belum memiliki pasangan tapi sudah ingin menikah. Jika kebahagiaan menjadi tujuan, sebaiknya niat untuk memiliki pasangan dan menikah dibatalkan saja. Mengapa? Belum tentu dengan memiliki pasangan dan menikah membuat kita bahagia.

Konstan bahagia sepertinya tidak ada. Pernikahan yang selalu diisi dengan senyum dan tawa itu tidak ada. Daripada terbuai dengan mimpi atau harapan tentang happily ever after, sebaiknya rombak ulang sistem pikirannya. Rasanya tidak adil jika menuntut pasangan bahwa ia harus membahagiakan kita setiap saat. Rasanya terlalu lemah jika menuntut pernikahan harus membuat kita bahagia pula. Jika menjadikan bahagia sebagai tujuan dan menggantungkan hal tersebut kepada orang lain, biasanya akan mengarahkan kita pada kekecewaan. Yang memutuskan apakah kita berbahagia atau tidak adalah diri kita sendiri. Kita bisa kalau kita mau.

Happily ever after tampak tidak adil pula bagi emosi lain seperti marah, sedih, atau kecewa. Karena kita lahir dengan memiliki emosi itu semua. Mungkin caranya agar keadaan kondisi kejiwaan kita balance adalah dengan merangkul semua emosi. Rasakanlah sedih jika sedih. Rasakanlah bahagia jika bahagia. Embrace everything. Don't deny it. Live today.

Haduh, mudah-mudahan tidak tampak seperti sok tahu atau menceramahi ya. Kira-kira itulah insight yang saya dapat belakangan ini. :)

Comments

Sundea said…
Kalo kata gue, Ni, bahagia itu nggak berarti mengabaikan rasa marah, rasa sedih, rasa kecewa, rasa sakit ... bahagia lebih ke sikap hati ngadepin semuanya.

Mungkin analoginya lebih kayak "memelihara kebun" buat yang hobi. Pas berkebun kita nggak lepas dari hama, kering, kewajiban nelatenin si taneman, tapi kalo pada dasarnya kita seneng berkebun, itu semua nggak bikin kita jadi nggak bahagia lagi, walopun mungkin aja sekali-sekali kita ngeluh, kesel, ato bahkan nangis-nangis.

Gue percaya orang yang hobi "memeilihara idup" nggak akan keilangan kebahagiaannya. Idupnya pasti nggak selalu cerah ceria, tapi kerepotan itu bisa jadi justru bagian dari paket kebahagiaan yang perlu dirasain seutuh-utuhnya ;)

Bahagia itu nggak cuma diukur dari setiap moment yang kita adepin, tapi seluruh gambaran besarnya kalo kata gue sih =D

-Si Sundea-
Nia Janiar said…
Agree, Deaa.. :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…