Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Soft Violence

Berangkat dari kesadaran bahwa manusia adalah makhluk rapuh yang hanya terdiri darah, daging, dan tulang, dari tubuh yang mayoritas mengandung zat cair yang bisa mati dan membusuk, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan alam semesta, membuat Muhammad Taufiq (akrab dipanggil Emte) melukis dengan media cat air. Daya air yang meresap ke kertas dan bergerak sesuai dengan gaya gravitasi pun membuat karya-karya pria kelahiran Jakarta, 15 Maret 1979 ini berbeda.

Mulanya saya mengetahui karya Emte ini dari Instagram. Saat melihat karyanya, saya langsung jatuh cinta dengan warna-warna pias hasil osmosis tersebut. Belum lagi Emte menaruh ekstra air kepada beberapa bagian dari gambar sehingga terlihat bagian tersebut "meledak" dan membuka banyak ruang interpretasi pada karyanya. Ledakan-ledakan tersebut juga membuyarkan kesan yang dibangun dari pengenalan kita terhadap bentuk. Meski demikian, Emte menampilkan peledakan itu dengan lembut dan feminin. Mungkin itulah mengapa pameran ini bertajuk Soft Violence.

CHIT CHAT (55×75 CM) by Emte
Gambar dipinjam dari http://infoplatform3.wordpress.com/

RESPIRATORY FAILURE (55×75 CM) by Emte
Gambar dipinjam dari http://infoplatform3.wordpress.com/

Beruntung di bulan April ini, Emte sedang melangsungkan pameran solonya di galeri Platform 3, Bandung. Begitu memiliki kesempatan, saya langsung mendatangi galeri yang berada di daerah Cigadung tersebut. Walaupun karya-karyanya sudah diunggah di akun Instagram pria lulusan Institut Kesenian Jakarta tahun 2004 ini, saya bisa melihat dalam bidang yang lebih besar dan menghayati setiap tarikan garis, campuran warna, dan detail yang mengagumkan.

SPECIFIC EFFECT (40×30 CM) by Emte
Gambar dipinjam dari http://infoplatform3.wordpress.com/

THE STATE OF BEING INFATUATED 2 (55×35 CM) by Emte
Gambar dipinjam dari http://infoplatform3.wordpress.com/

Saya menyukai semua karyanya, karena saya suka dengan lukisan cat air yang membuat tone warna lukisan lebih artistik. Mungkin karyanya yang paling banyak menarik perhatian pengunjung, mengundang cekikian, sekaligus membuat rindu pada pasangan adalah seri The State of Being Infatutated. Liukkan cat air yang dinamis dan ledakan-ledakan warna tersebut seolah-olah mengukuhkan ledakan perasaan pada pasangan.

Bukankah itu juga yang kita rasakan saat sedang tergila-gila pada seseorang?

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba