Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

3 Days 3 Cities: Yogyakarta

Seperti Bandung, Yogyakarta itu semacam kota yang mainstream banget untuk dikunjungi. Saat sekolah, kota ini semacam destinasi wajib sebagai tujuan study tour. Tapi study tour sekolah saya tidak pergi ke Candi Prambanan dan saya penasaran setelah membaca novel Ayu Utami berjudul Maya yang membahas tentang Roro Jonggrang. Maka pergilah saya dan Eka ke sana.

Dari kejauhan, Prambanan adalah candi yang cantik. Bentuknya ramping dan tinggi. Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9. Candi ini ditujukan untuk Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di tengah teriknya Yogyakarta, saya dan Eka berkeliling kompleks candi untuk mencari patung Roro Jonggrang. Beberapa jam setelahnya, saat mau pulang, kami baru sadar kalau Roro Jonggrang itu kan nama keseluruhan candinya, bukan berbentuk patung. Duuh.



Candi yang termasuk situs warisan dunia UNESCO juga memiliki sebuah cerita legenda tentang Pangeran Bandung Bondowoso yang jatuh cinta dengan putri kerajaan seberang bernama Rara Jonggrang. Prambanan adalah bentuk cinta yang ditolak dan berlandaskan tipu-tipu wanita yang tidak berani bilang tidak mau dengan mengemukakan syarat yang tidak masuk akal. Cantik bener pasti dia.


Karena pihak pengurus candi ini juga menawarkan tiket terusan ke Candi Boko yang letaknya hanya 3 km dari Prambanan, kami memutuskan untuk mengambil tiket terusan tersebut. Saya ingat candi ini, yang menurut legenda namanya diambil dari nama ayahnya Roro Jonggrang yaitu Ratu Baka, gara-gara iklan stasiun televisi yang syuting di sini. Jika Prambanan bentuknya ramping, Candi Boko terkenal dengan pintunya yang membingkai pemandangan gunung yang ada di depannya.

Dengan buru-buru, kami pergi ke keraton. Kenapa buru-buru? Karena kami harus pulang dengan bus pukul 5, sementara kami harus cari oleh-oleh dulu. Begitu sampai, ternyata keraton tutup karena ada acaranya. Maka dengan lelah, kami pergi ke Benteng Vredeburg karena Eka belom pernah ke sana. Dari kejauhan, benteng ini begitu memikat mata. Karena tidak setiap hari kita melihat ada benteng Belanda di pinggir jalan 'kan?

Setelah melihat benteng dengan tidak maksimal, kami pergi mencari oleh-oleh. Saya membeli kaos buat si pacar dan bakpia buat teman-teman kantor. Oh ya, selama di Yogyakarta, kami sangat dibantu oleh saudaranya Eka. Transportasi kami pun dimudahkan dengan dipinjamkannya motor. Kalau pakai bus, pasti tidak akan terburu. Setelah saudaranya mengantarkan Eka pulang naik bus ke Bandung, saya diantarkan pula ke terminal bus di Jombor. Di terminal, saya menunggu bus cukup lama, tapi tidak selama saat menunggu bus ke Semarang. Sendirian di kota yang jauh dan membayangkan jarak yang harus ditempuh ke Jakarta, saya merindukan mamah.

Huuu, cengeng.

Perlu saya akui bahwa perjalanan tampak menyenangkan saat direncanakan, tapi setelah dijalani, sepertinya kami terlalu ambisius. Jadi serba terburu-buru, tidak menikmati, dan tidak mendalami. Mungkin karena kami jarang memiliki waktu untuk jalan-jalan. Jadi, sekalinya jalan, kami mencoba memaksimalkan destinasi yang ada. Saran untuk pejalan lainnya, saat jelajah kota besar luangkan waktu minimal dua hari.

Sekian perjalanan tiga kota dalam tiga hari, Masih jelajah kota, saya akan menceritakan perjalanan saya ke Pasuruan dan Surabaya. Sampai jumpa!

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba