Skip to main content

Memaknai Keseharian

Apapun yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, atau disentuh dengan kulit, mungkin akan tidak ada artinya jika manusia tidak memusatkan perhatiannya terhadap fenomena-fenomena di luar dirinya itu. Rutinitas juga menumpulkan seseorang dalam mencandra, melihat apa yang terjadi atau apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Terlalu lebur sehingga tidak bisa mengenal, mengurai, memahami, dan memetakan kejadian-kejadian.

Manifesto merupakan Pameran Besar Seni Rupa Indonesia yang diadakan dua tahun sekali. Kali ini tema yang diusung adalah Keseharian. Pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Jakarta ini berlangsung hingga 7 Juni 2014 dan diikuti ± 79 karya yang terdiri dari karya 5 perupa sebagai commission artists. Banyak seniman muda yang berkontribusi dalam pameran ini.

Saya senang datang ke pameran ini karena banyak seniman yang menggunakan media yang tidak biasa. Lihatlah Between Existence and Non-Existence karya Teguh Agus Priyanto yang terbuat dari kumpulan kancing yang dihubungkan dengan benang nilon. Atau Malin Kundang - A tale of The Sailing Stones karya Desrat Fianda yang terbuat dari batu andesit. Dari banyak pameran yang saya kunjungi, saya baru melihat karya dari batu andesit selain bangunan candi. Hehe. Sang seniman membuat replika buku dari batu yang besar dan pastinya berat sekali.

Between Existence and Non-Existence karya Teguh Agus Priyanto

Malin Kundang - A tale of The Sailing Stones karya Desrat Fianda

A Day Like A Year, A Day Like A Month, A Day Like A Week karya David Armi Putra

Trans at November 2005 #02 karya Itsnaini Rahmadillah

Foto-foto lainnya bisa dilihat di Flickr saya.

Saya senang dengan pameran ini karena karya-karyanya terlihat segar. Salah satu teman saya, Desta, juga pameran di sini. Ia menampilkan majalah seni buatannya bernama fur. Sayangnya karena tidak ada biaya (menurut pengakuannya), ia hanya menampilkan dalam bentuk fotokopian. Haha. Desta juga bilang bahwa majalahnya ingin mendobrak paradigma seni di Jakarta yang dikendalikan oleh orang yang itu-itu saja. Ia ingin menyediakan ruang alternatif dan memberikan kesempatan orang banyak untuk menampilkan karya seni mereka.

Amen to that, Desta.

Menurut saya, seni di Bandung pun sama dikendalikan oleh orang-orang itu saja. Galeri-galeri besar di Bandung mayoritas menampilkan seniman-seniman dari ITB, bukan UPI atau UNPAS. Tidak hanya dinikmati, pelaku seni pun seharusnya bisa digerakan oleh semua orang.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…