Ampuh! Ini Dia Skincare Penghilang Bekas Jerawat

Image
Setiap orang pasti pernah berjerawat. Jerawat adalah hal yang normal terjadi pada kulit kita. Meski hanya muncul satu atau dua biji, jika diperlakukan tidak baik seperti dipencet, maka akan meninggalkan noda atau bekas luka. Nah, ini dia yang susah dihilangkan. Makanya skincare penghilang bekas jerawat banyak dicari. 



Temen-temen yang sering ketemu saya pasti tahu bahwa saya punya muka dengan bekas jerawat yang parah. Selain scar atau bopeng, banyak noda hitamnya. Beberapa bulan ini, saya rajin berburu skincare yang bagus untuk menghilangkan bekas jerawat. Saya coba layer retinol, vitamin C, dan niacinamide, tapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Selain itu juga jadi mahal karena produk yang dipakai banyak.
Akhirnya saya menemukan sebuah produk skincare lokal yang ampuh mengurangi bekas jerawat. Hanya dengan satu produk ini, saya bisa dapat hasil yang memuaskan. Produk itu adalah ... rosehip oil!
Apa itu rosehip oil? Rosehip oil itu adalah minyak yang berasal dari ekstraksi bunga mawar l…

Bidadari yang Mengembara

Meskipun sampulnya berwarna merah jambu, buku Bidadari yang Mengembara bukanlah sebuah karya dengan genre chicklit atau metro pop. Apalagi kumpulan cerpen yang ditulis oleh A.S. Laksana ini dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik tahun 2004 dan 2013.



Buku ini berisi 12 cerita pendek. Rata-rata ceritanya berkisah tentang hubungan interpersonal antara satu tokoh dengan orang seperti ayah, ibu, kakak, dan lawan jenis. Dari semuanya, cerpen yang paling saya suka adalah "Seekor Ular dalam Kepala" dan "Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang".

"Seekor Ular dalam Kepala" bercerita tentang seorang wanita bernama Lin yang mengaku bahwa ada seekor ular yang masuk melalui lubang telinganya. Ular itu menyuruh Lin untuk memetik apel. Meskipun Lin sudah tahu cerita klise tentang Adam dan Hawa, Lin tetap mencoba memetiknya. Bahkan ia meminta tolong sang suami, namun tidak berhasil karena tidak terjangkau.

Lin menceritakan hal ini kepada suaminya, Rob, yang merespon dengan ketakutan bahwa Lin sudah gila. Ia menyuruh Lin untuk mendatangi sebuah psikiater. Sebagaimana dokter kejiwaan, si psikiater memberi pertanyaan dan Lin menjawabnya dan meminta si psikiater untuk memetik apelnya. Ternyata saran Rob menyuruh sang istri ke psikiater adalah hal yang buruk. Lalu Rob memutuskan untuk mengeluarkan ular dari kepala istrinya.

Sementara itu, "Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang" bercerita tentang seorang anak yang penasaran jalan masuknya dan keluarnya bayi. Si ibu bilang bayi datang dari udara. Namun tokoh anak tidak percaya begitu saja. Setelah hilang berminggu-minggu, si anak datang sambil membawa kaca pembesar dan memaksa ibunya untuk memperlihatkan jalan keluar masuk bayi. Dan ia pun menyingkap kain ibunya.

Menurut saya, cerpen-cerpen karya A.S. Laksana ini bernuansa getir dan terdapat beberapa perumpamaan seperti dua cerpen yang saya tuliskan di atas. Membaca karya A.S. Laksana mengingatkan saya pada cerpen Avianti Armand yang jauh lebih hitam, berjudul "Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian" yang memperoleh penghargaan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2009.

Rasa dingin tiba-tiba merayapi punggungku. Wajah itu terlalu putih, bahkan untuk pagi yang masih biru. Aku segera mendekat. Dan di sana, di balik pintu yang separuh terbuka, tubuh suamiku tergeletak. Sebilah pisau menancap di dada. Darah membual dari lukanya. Lantai yang putih kini berkubang merah. Duniaku seketika hitam.

Comments

  1. kenapa cerpen2 getir dan simbolis gini yang sering menang cerpen terbaik ya? Apa happy ending itu kayaknya dosa gt ya di dunia sastra?

    ReplyDelete
  2. Mungkin kalau happy ending jadi kesannya dangkal kali ya? Kalo getir kan kesannya berbekas. Haha.. gak tau deng. Hehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba