Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Menyapa Tuhan

Pada malam ini, aku merasa aku sangat dekat dengan Semesta. Dengan gelap malam, kerlip bintang, serta takbir yang menggema di langit. Suaranya mendengung berkelanjutan, memuja Tuhan dengan syair-syair nan syahdu, membangkitkan kegelisahan spiritual tentang keinginan untuk kembali pulang. Manusia hanya sebutir debu yang begitu lemah dibandingkan dari luasnya langit dan dalamnya lautan. Manusia sendiri, dalam sepi.

Pikiranku melayang kemana-mana, terbang ke masa lalu dan masa depan. Tidak hanya tentang ketakziman, pikiran ini menangkap kegetiran dan harapan. Lebaran selalu mengingatkan akan keluarga, tentang kesendirian dan rasa sepi tidak berkumpul layaknya keluarga lain yang penuh kehangatan, seperti memakai baju yang senada, saling berfoto, atau pergi pelesir ke suatu tempat setelahnya. Akankah lebaran berikutnya aku akan mengalami situasi yang sama?

Para sepupu dan sahabat pun terbayang. Betapa aku menginginkan kehadiran mereka. Betapa aku ingin merasa penuh dan hangat. Ketiadaan mereka menyadarkanku bahwa manusia sendirian di muka bumi. Meskipun mereka bersosialisasi dan bercengkrama, setiap manusia memiliki dunianya sendiri, urusan sendiri. Mungkin kesendirian itu yang membuat manusia mengalami transendensi, melampaui dirinya, mencapai hal-hal yang mega.

Lalu Tuhan masuk kamar, Ia menyapa, dan berkata "Tidak perlu takut. Semua akan baik-baik saja."

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba