Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Rumah (Temporer) Baru

Bulan ini adalah bulan kedua saya berada di kosan yang baru. Dari awal tinggal di Jakarta, saya sudah survey ke beberapa kosan, salah satunya kosan yang letaknya di Jalan Pilar Baru ini. Namun karena waktu kedatangan ke Jakarta begitu gambling sembari sudah bawa barang namun belum punya kosan, saya masuk ke kosan putri yang letaknya di pinggir jalan besar. Hampir setahun lamanya, saya tinggal di sana.

Di kantor, saya bertemu dengan Gisel, anak baru yang ngekos Pilar Baru. Saya sering pulang bareng dengannya karena kosan kami searah. Wah, saya pikir seru juga kalau kami satu kosan, bisa pulang bareng dan tidak sendirian. Kemudian saya mulai bertanya lebih detil tentang fasilitas di kosan Pilar Baru. Setelah beberapa kali bolak-balik dan merepotkan Gisel untuk tanya ke penjaga kos, akhirnya saya pindah juga.

Secara harga, kosan ini bisa dibilang mahal. Bahkan kosan ini harus meninggalkan uang deposit segala. Tapi kalau dibandingkan masing-masing dengan harga dan fasilitas, sebenarnya sama saja. Yang ini murah tapi gak ada ini itu. Yang ini mahal tapi ada ini itu. Coba kalo yang murah ditambah ini itu, pasti harganya akan sama dengan si mahal.

Dua bulan di sini, saya mulai kerasan dan merasakan bahwa kosan ini jauh lebih nyaman dibandingkan yang pertama. Di sini ada dapur dan kulkas bersama, sehingga saya bisa masak dan menyimpan makanan beku atau minuman dingin. Baju saya juga dicuci setiap hari, sehingga selamat tinggal tangan kasar sebagaimana saya ngekos di tempat dulu! Dan tentunya kamar mandinya di dalam sehingga saya bisa hilir mudik telanjang dada dan paha. *duh

Oatmeal pancake dengan keju rasa gurih.

Nasi Goreng tanpa kecap. Kesukaan!

Kentang tumbuk. Keren gak tuh!

Roti dan salmon.

Penne ziti rigate dengan saus ayam buatan sendiri. Masterpiece! *lebat


Tempat tidur saya sangat besar, muat dua orang. Spring bed baru yang masih dibungkus plastik pulak! Beda sekali dengan kosan dulu yang hanya kasur busa dan menyebabkan nyeri pinggang di setiap bangun pagi. Huhu. Selain itu, lemari pakaian lebih besar, kipas angin lebih terasa. Dan yang paling penting.. ventilasi sangat baik sekali sehingga saya jarang mandi keringat di kamar. Apalagi saya di lantai 3 yang punya ruang terbuka untuk jemuran sehingga angin bisa masuk ke dalam kosan. Nice!

Meskipun pedih saat transfer setiap bulannya, tapi saya pikir ini setara. Dan saya tidak lagi malu mengundang teman-teman saya untuk menginap di sini. Haha. Jadi ingat, dulu Eka pernah nginap di kosan lama. Karena saking kecilnya kasur, ia harus tidur dengan miring!

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba