Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Paradoks Dalam Bungkus Rokok

Akhir-akhir ini sedang heboh bungkus rokok yang menampilkan gambar-gambar gore oleh salah satu produsen rokok Indonesia. Gambar gore itu adalah dada manusia yang dibelah dan dikuliti hingga terlihat paru-parunya yang menghitam akibat rokok. Jauh sebelum itu, peringatan seperti "rokok dapat menyebabkan impotensi dan gangguan janin" dipersingkat jadi lebih cadas yaitu "rokok membunuhmu". Di sebelahnya terdapat sebuah gambar seorang pria yang sedang merokok dengan latar belakang tengkorak. Namun apakah benar semua itu mempengaruhi konsumen untuk berhenti? Atau sekedar memenuhi sebuah standar operational procedure? Atau bahkan.. apakah itu marketing gimmick?

Mulanya saya mensyukuri keberadaan foto-foto mengerikan itu sambil berharap orang dapat mengurangi merokok. Namun ada teman saya yang begitu all out membela bahwa gambar itu justru merusak design dan berpendapat bahwa gambar itu lebih membunuh karena teror psikologis yang dihasilkan (ketimbang merokok). Saya jadi berpikir, ada dampak positif enggak sih dari gambar tersebut?

Saya bertanya ke beberapa teman yang merokok. Mereka jawab tidak. Mereka banyak akal, misalnya dengan menutup gambar dengan selotip atau--bukannya berhenti--malah beralih ke rokok lain yang lebih mahal atau murah. Menurut teman saya, perilaku merokoknya saja (kalau yang nyandu) bukan sesuatu yang logis, jadi dikasih perlakuan logis kayak begitu ya tidak ada pengaruhnya. Ya mungkin ada juga yang terpengaruh dan memutuskan untuk berhenti.. tapi entah di dunia paralel mana.

Gambar dan tulisan yang menunjukkan bahwa rokok adalah racun tapi masih tetap dijual secara bebas, justru menjadi sebuah paradoks. Sebuah oksimoron. Racun kok dijual bebas? Kenapa tidak jujur menulis "Mari, jo, kita mati basamo!" saja. Lagipula mana ada sebuah perusahaan yang ingin konsumennya berhenti membeli produk mereka. Seolah-olah hanya ingin memberitahukan, "Ini bahaya ya, tapi kan udah gue peringatkan lhoo." Sebuah akal-akalan.

Tulisan ini bukan untuk para perokok, namun para pelaku industri ini. Yah.. perusahaan sudah kepalang besar, masyarakat sudah kepalang dependen mencari nafkah dari situ, negara juga mendapatkan banyak pendapatan, dan banyak masyarakat yang sudah merasakan kenikmatan oral yang tiada bandingnya.

Mari, Jo... mari kita merokok sambil agogo..

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba