Skip to main content

Nonton Film di Taman

Sekitar dua minggu yang lalu, Bandung dihebohkan dengan pembukaan taman yang mengambil tema film yang dibuat oleh sang walikota Ridwan Kamil. Saya tidak pergi ke sana karena tahu akan penuh. Benar saja, kalau dilihat dari postingan foto teman-teman, tempat duduk di taman film yang bisa menampung 500 orang ini penuh sesak.

Kemarin, saya dan Anto pergi ke sana karena penasaran lihat taman film ini. Kami parkir motor di Baltos. Padahal, di dekat taman ini, masih di bawah kolong jembatan, ada parkiran motor. Caranya, jangan naik fly over.

Dari kejauhan sudah terlihat sinar lampu dari videotron berukuran 4x8 meter ini. Awalnya saya kira layarnya hanya berupa bentangan kain dan disorot proyektor. Ternyata pakai videotron berkekuatan 33.000 watt. Tipikal videotron yang biasa kita temui di pinggir jalan raya.




Begitu masuk arena taman, kami terkagum-kagum. Tempat duduk dibuat berundak dengan lekukan-lekukan, sangat dinamis dan tidak monoton. Mulanya Anto mengira taman film ini akan seperti tontonan layar tancep di luar negeri yang orangnya nonton di dalam mobil. Tempat duduk di sana mengingatkan saya pada tempat duduknya sebuah auditorium di Jakarta. Selain bisa duduk, orang-orang juga bisa lesehan tanpa takut kotor karena taman ini dilapisi rumput sintetis yang juga motifnya disesuaikan dengan tempat duduk.

Beberapa warga inisiatif membuka sepatu saat menginjak bagian rumput, padahal tidak dilarang. Tapi saya setuju sekali dengan hal ini karena untuk menghindari kotor atau cepat rusak. Dan, karena terlihat bersih, banyak anak-anak yang bermain sampai berguling-guling atau para orang dewasa yang nonton sambil tiduran. Keren.



Kami senang sekali melihat anak-anak yang bermain dan muda-mudi bercengkrama di sini. Semua orang tampak menikmati taman ini. Memang salah satu tujuan pemerintah kota Bandung membuat taman tematik adalah untuk meningkatkan indeks kebahagiaan warga Bandung.

Selain membuat orang bahagia, menurut saya keberadaan taman ini bagus sekali, yaitu untuk mengedukasi masyarakat lewat film yang ditonton. Karena pada saat kami datang, film yang ditayangkan adalah National Geographic Wild tentang pemburuan singa pada kijang. Haha. Dan ya enggak mungkin kan pasang sinteron di sini?

Sebelum dijadikan sebuah taman, tanah seluas 1.300 meter persegi ini dulunya tempat yang kumuh. Kolong jembatan merupakan area yang riskan untuk diisi gelandangan dan aksi kejahatan. Bahkan Anto pernah ngaku ditodong sekomplot orang-orang dan mengambil paksa uangnya. Huu, kasian.

Karena beratapkan jalan layang, jadi tidak perlu takut kepanasan atau kehujanan. Selain itu, suara bising dentuman mobil di atas pun pasti terhiraukan dengan audio videotron yang besar serta riuhnya suara anak-anak.

Ternyata pembuatan taman film tidak masuk anggaran dana kota Bandung karena modal pembangunannya berasal dari hibah para pengusaha. Saat ulang tahun Bandung di bulan September ini, kembang api pun disumbangkan dari pengusaha. Wah, pasti walikota kota ini punya banyak jejaring dan mampu melobi orang dengan baik. :)

Kerja yang bagus, Pak Ridwan!

Comments

Anonymous said…
tamannya memang keren banget dan yang penting bersih plus banyak tempat sampah. Semoga tetap terjaga tamannya :)
izumi said…
Salam kenal Kak Nia :D

Selama ini cuma jadi silent reader, tetapi begitu baca postingan soal Taman Film di Bandung, jadi pengen komen^^
Sebagai sesama warga Bandung, aku bangga banget kotaku tercinta ini punya taman keren begini (walaupun belum pernah pergi ke sana langsung sih).

Ditunggu posting2 lainnya soal Bandung. Keep writing ya, Kak :)
Ranger Kimi said…
Aih... Bandung makin keren saja ya. Beruntunglah Bandung punya Pak Ridwan Kamil sebagai walikota. Semoga Bandung semakin keren dan keren... Ngomong-ngomong, kapan ya kota saya bisa sekeren itu? *sigh*
Nia Janiar said…
@coklatdanhujan: Amiiinn.. karena Taman Pustaka Bunga sekarang udah engga terjaga, padahal ada donasi (paksa) pula. :(

@izumi: Haloo, salam kenal jugaa. Iya, aku juga bangga. Akhirnya kita punya walikota yang keren, kreatif, dan sayang Bandung. Mudah-mudahan seterusnya. :)

@Ranger Kimi: Di Bandar Lampung ya? Hehe.. iya, kami beruntung. Semoga Bandar Lampung juga ketularan!

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…