Skip to main content

A Day of Gratitude

Life's been so majestic to me. Karena"majestic"-nya, sampai lama tidak update blog. Padahal banyak hal yang menyenangkan yang saya alami, dari jalan-jalan ke Pahawang bersama teman hingga liputan Karapan Sapi di Madura. Oleh karena itu, saya merasa sangat bersyukur.

Saya merasa sangat bersyukur jika mengingat dari mana saya berasal. Orang tua saya bukanlah dua orang yang berada dan mengenyam pendidikan tinggi. Mereka juga bukan orang yang biasa-biasa. Justru, mereka berada di bawah standar sosial itu.

Lima hari di minggu kemarin, saya liputan acara Bank Indonesia tentang ekonomi dan keuangan syariah. Di dalam acara tersebut, ada sebuah talkshow tentang pemberdayaan perempuan untuk melakukan usaha. Di sesi tanya jawab, ia menyampaikan kebingungannya karena suaminya meninggal dunia, ia harus bekerja, sementara ada dua anak yang harus diurus. Ia harus memberi nafkah namun takut kedua anaknya terbengkalai.

Salah satu narasumber berkata, "Bu, beruntung di Indonesia, keluarga kita itu extended family. Kita bisa menitipkan anak kita ke orang tua atau saudara. Menurut saya tidak apa-apa, karena itu sifatnya sementara. Dan yang terpenting, komunikasikan pada anak bahwa ibu bekerja keras demi mereka. Kalau anak tahu kerja keras sang ibu, pasti anak akan respect. Yang terpenting, terus berkomunikasi dengannya."

Saya jadi membayangkan ibu saya. Keluarga saya memang tidak harmonis. Mungkin bisa dibilang broken home. Sebenarnya saya punya alasan untuk sakit hati, marah, dan menjadi pemberontak. Tapi saya tidak bisa. Ibu saya memang bukan seorang pekerja atau wanita karir. Tapi dengan melihatnya bertahan di tengah hancurnya rumah tangga, saya menghargai usahanya. Bahkan, saya otomatis memiliki tanggung jawab agar hidup kami lebih baik. Saya harus bisa meningkatkan derajat ibu saya. Lucunya, saya jadi tomboy dan galak untuk mengambil peran protector yang harusnya ada dari sosok ayah.

Tentu sekarang saya belum 100% berhasil. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus saya selesaikan. Tapi melihat lagi ke belakang, kepada titik saya bermula, saya merasa ini sebuah pencapaian yang besar. Karena pekerjaan, saya bisa melihat hal-hal yang tidak mungkin bisa saya lihat atau mendapatkan pengalaman-pengalaman mahal.

Saya merasa beruntung.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…