Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

The Missing Joy

Sudah hampir tiga minggu lamanya Joy menghilang. Bagi yang belum tahu, Joy itu anjing milik pacar saya, Anto. Badan Joy tidak terlalu tinggi, bahkan panjang, dan cenderung bohay. Bulunya hitam dan putih, panjang, dan kadang kusut karena Anto suka malas menyisir. Saya pernah membelikan sisir dan gunting karena bulu Joy mulai gimbal di beberapa tempat.

Joy adalah anjing baik, hanya menggongong pada orang yang tidak ia kenal dan menggonggong pada dirinya sendiri saat berkaca. Ia seringkali riweuh dan over excited dengan melompat dan menjilat kalau Anto datang. Joy juga suka ngaso, tiduran dari atas lantai dengan kedua kaki yang terlentang--sehingga ia menyerupai keset. Keset yang lucu.



Di balik perannya sebagai hewan peliharaan, ia berperan sebagai The Escape Artist. Keset hidup ini suka membuka pintu gerbang rumah, membobol kandang, dan--terakhir--ia membobol sekat rumah. Biasanya Joy jalan-jalan sendirian ke luar dan balik lagi ke rumah. Tapi kali ini tidak. Joy tidak pulang.

Joy adalah anjing yang diberi makan sejak ia kecil. Seharusnya ia pulang jika ia merasa lapar. Tapi ia tidak kunjung pulang. Kalau pulang ke rumah, Anto selalu mengecek makanan yang ditaruh di atas wadah. Tapi banyaknya makanan itu selalu sama karena tidak ada yang makan. Joy, kamu tidak lapar?

Yang membuat saya khawatir adalah Indonesia, negara yang penduduknya mayoritas muslim ini, adalah negara yang tidak ramah pada anjing. Karena najis adalah hal yang harus dihindari, maka anjing pun demikian. Cara menghindari bisa saja bermacam-macam, seperti memukul, menyiram, menendang, melempar, atau menelantarkan. Padahal apa yang salah dari hewan lucu, baik, dan berbulu ini? Kalau kena hidung atau liurnya 'kan tinggal dicuci pakai tanah. Di balik anti anjing, ada sebuah ironi kecintaan pada anjing. Beberapa suku di Indonesia gemar sekali mengkonsumsi daging anjing. Tapi mudah-mudahan tidak ada di Sumedang karena kota kecil ini mayoritas penduduknya tidak makan daging anjing.

Saya berharap sekali Joy baik-baik di luar sana. Tidak apa-apa diambil orang, asal orang itu jauh lebih sayang Joy dibandingkan Anto. Semoga Joy terawat, tidak kesakitan, dan tidak kelaparan. Dan seperti namanya, semoga Joy selalu berbahagia di manapun ia berada.

Joy, kalau sudah bosan di luar, pulang ya. Kami selalu menunggumu ...

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba