Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Liuk Aksara Jawa

Beberapa orang mungkin subscribe blog ini karena saya sering datang ke pameran seni dan pembaca ingin tahu jika ada informasi tentang pameran seni. Tapi nyatanya akhir-akhir ini saya sering menulis tentang diri atau kejadian yang umum saja. Maaf ya. :D Beberapa minggu terakhir, saya sempat mendatangi beberapa pameran tapi kurang berkesan. Jadinya tidak saya tuliskan.

Tapi hari ini berbeda. Justru hari ini saya benar-benar niat untuk pergi ke Galeri Nasional, Jakarta, karena saya mau menghadiri pameran tunggal Eddy Susanto. Tiga tahun lalu, saya pernah datang ke pameran tunggal Eddy berjudul Mata Hari Centhini di Galeri Lawangwangi, Bandung. Waktu itu saya terkesan sekali dengan karyanya. Lukisannya menjadi spesial karena di setiap lukisan terdapat detail aksara Hindi yang ditulis melingkar dan bercerita.

Pameran tunggal kali ini berjudul "JavaScript" yang diadakan sampai tanggal 13 September nanti. Sebuah patung sinden yang tengah duduk dengan microphone di depannya menyambut saya ketika masuk ke dalam ruang pameran. Di belakang patung batu itu terdapat sebuah kayu yang diukir dengan aksara Jawa. Kemudian terdapat tiga buah lukisan yang terdiri dari huruf-huruf kayu yang membentuk sosok Kartini dan Sukarno.

Hymns of Dystopia, 2015



Karya-karya lainnya adalah lukisan-lukisan yang menggambarkan pertemuan budaya (manuskrip). Kalau kata Suwarno Wisetrotomo, dikutip dari website Galeri Nasional, contohnya adalah manuskrip Arjunawiwaha dipertemukan dengan karya klasik Albrecht Durer (1471-1528) “The Promade”, karya kidung Asmarandana dipertemukan dengan karya Lambert Hopfer “The Conversion of St. Paul”, kitab Baratayudha dipertemukan dengan karya Albrecht Durer “The Four Horsemen of the Apocalypse”.

Melihat lukisan-lukisan ini seperti melihat sebuah buku cerita yang sangat besar dengan ilustrasi cerita di halaman sebelah kiri dan tulisan di halaman sebelah kanan. Ilustrasi itu memiliki garis yang ditulis dengan aksara Jawa. Ukurannya kecil-kecil dan penuh detail sehingga bisa dilihat sebagai satu gambar utuh dari kejauhan. Di bawah lukisan, terdapat mp3 player yang bisa digunakan pengunjung untuk mendengarkan kata-kata yang dinyanyikan oleh sinden. Peleburan dua budaya ini, yaitu masa lalu dan masa kini, menjadi fokus Eddy.

The Book of Hours of Panji
Detail tulisan
Detail gambar
Detail gambar

Meskipun terkadang budaya memberi kesan kuno, anak muda tetap bisa menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Eddy membuat lukisan-lukisan yang mengawinkan aksara Jawa dengan mengilustrasikan website-website yang akrab dengan kita seperti YouTube, Facebook, dan Wikipedia.

Saya suka dengan karya-karyanya. Yang membuat saya suka adalah karya yang seperti ini: dari jauh enak dipandang, dari dekat ternyata lebih mengesankan karena mengandung detail-detail yang luar biasa.

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba