Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Gegap Gempita Tanpa Makna

"Kamu mau di sini sampai kapan?" tanya pacar saya di suatu siang.

Saya melayangkan pandang pada gedung kantor yang tepat di depan mata. Penuh pertimbangan. "Enggak tahu," jawab saya pada akhirnya. Iya, saya tidak tahu kapan saya akan tinggal di Jakarta. Waktu pertama kali menginjakkan kaki di sini, saya berjanji saya hanya akan lima tahun berada di sini. Tapi sekarang kepastian itu memudar. Lalu saya melanjutkan, "Mungkin kalau aku jadi asisten redaktur atau kalau ada tawaran pekerjaan yang menarik dengan gaji lebih bagus di Bandung. Aku 'kan enggak mau selamanya tinggal di sini."

Mudah-mudahan itu adalah optimisme yang bisa dijadikan rencana dan tujuan. Bukan jawaban untuk menghibur diri sendiri.

Hampir tiga tahun lamanya saya tinggal penuh di Jakarta. Satu setengah tahun sebelumnya saya habiskan dengan pulang pergi Jakarta-Bandung setiap dua minggu dalam sebulan. Mulanya excited dan mensyukuri bahwa saya bisa hidup jauh dari rumah, punya waktu untuk pribadi yang sangat banyak, dan tahu rasanya mengurus diri sendiri. Tapi kalau selamanya sendiri dan jauh dari rumah, itu bukan tujuan hidup saya. Saya tidak mau excited yang seperti itu.

Jakarta kini sama seperti Jakarta yang saya lihat saat pertama kali menginjakkan kaki. Asing dan sepi. Terkadang penuh gegap gempita, namun tak bermakna. Homesick selalu hinggap di penghujung minggu. Mungkin karena saya tidak pernah meresapi kota ini sebagai rumah. Jakarta hanya menjadi tempat singgah.

Hari ini Jakarta menunjukkan jiwanya yang begitu rapuh. Rasa sepi menggaung di setiap jalan, di lorong gang. Betapa lelahnya ia pada dirinya sendiri.




Comments

  1. Sepertinya saat menulis postingan ini, mbak sedang merasakan kekosongan dan kehampaan?
    Foto2 tanpa seorang pun manusia juga mengekspresikan apa yg mbak sedang alami (maybe)
    hihihi.
    Semangat mbak2!

    ReplyDelete
  2. Merasa asing sih lebih tepatnya. Hehee.. Tapi apa yang ditulis di sini memang menunjukkan perasaan yang dialami. Seperti diary. :D

    Makasih yaa..

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba