Posts

Showing posts from December, 2015

Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Supaya Kerja Tidak Ribet Lagi

Image
Postingan kali ini saya dedikasikan untuk usahanya pacar saya. Semoga laku. :) ----------------------------- Teman-teman yang penggiat UMKM dengan usaha café atau rumah makan, bisa lho menunya dibuat secara digital. Misalnya pengunjung café Drinkme, sebuah kedai kopi di Sumedang, Jawa Barat ini bisa pilih sendiri menunya dengan layar sentuh yang ada deket kasir. Ini mempermudah kita supaya tidak menghampiri pelanggan satu persatu. Kita juga tidak perlu mencatat karena semuanya sudah praktis dalam satu aplikasi. Berikut ini adalah screen capture POS Software Project of LOCALITYC Multimedia @2014. Klik fotonya untuk memperbesar. Tampilan untuk menu kopi dengan ikon yang menarik. Gambar berubah sendiri dengan foto-foto. Bisa dipasang untuk iklan juga. Tampilan menu teh. Tampilan menu untuk jus. Tampilan saat pembeli menyentuh menu yang dipesan. Pembeli juga bisa menentukan jumlah pesanan. Tampilan untuk memperlihatkan jumlah pesanan.  Nama juga

(Review Buku) Aruna dan Lidahnya

Image
Jika kita berbicara tentang makanan, ah... lupakan. Makanan tidak seharusnya dibicarakan, tapi makanan seharusnya disantap. Apalagi untuk para foodist, makanan itu begitu kompleks dan bahkan mengandung filosofi tersendiri. Ada perpaduan rasa yang berbeda saat dihirup, dirasa saat pertama kali mengenai lidah, dan dirasa saat mencapai pangkal lidah. Jika padu padanannya seimbang, maka terciptalah sebuah kepuasan. Foodgasm! Itu idealnya. Tapi hal itu terlalu rumit untuk saya yang makan hanya untuk kenyang. Lidah saya tumpul. Makan yang penting enak, sesederhana tidak terlalu asin atau manis. Dan yang penting mengenyangkan. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2014. Makanan sebagai anugerah yang patut diapresiasi mungkin menjadi ide Laksmi Pamuntjak membuat buku Aruna dan Lidahnya. Buku ini berkisah tentang Aruna, seorang ahli wabah, yang berkeliling Indonesia untuk melakukan investigasi kasus flu burung. Bersama teman kantornya--yang kemudian disusul teman sesama foodist--

Kegiatan (yang Mungkin) Menarik Saat Weekend untuk Anak Kosan

Hidup ini tidak adil, pun dengan pembangunan di negeri ini yang tidak merata. Kesempatan kerja yang menarik hanya tersedia di kota-kota besar, terutama Jakarta. Saya, dan mungkin kalian, adalah orang-orang yang membutuhkan pekerjaan tersebut sehingga harus pindah kota. Karena tidak ada sanak saudara, kita akan memilih untuk ngekos. Kos yang dipilih biasanya dekat dengan kantor dengan tujuan penghematan ongkos. Kalau kampung halaman saya berjarak sekitar 120 km dari ibukota, sebenarnya saya bisa pulang setiap minggu karena tidak memakan banyak waktu. Tapi kalau dihitung-hitung ongkos pulang perginya lumayan juga. Makanya saya hanya pulang dua atau tiga minggu sekali. Kalau tidak pulang, saya menghabiskan banyak waktu di kosan. Seperti sekarang ini Kalau ada acara musik atau pameran seni, biasanya saya keluar kosan. Tapi kalau tidak ada sesuatu yang membangkitkan keinginan untuk keluar, mending di kamar saja. Lagipula keluar kosan sama dengan keluarnya uang, terutama untuk ongkos dan

(Review Film) Nay

Image
Djenar Maesa Ayu adalah salah seorang penulis ternama yang karyanya jarang saya cari kalau ke toko buku. Alasannya sederhana yaitu karena saya menyukai beberapa penulis lainnya. Jadi bukan karena karyanya jelek lho ya, tapi lebih ke masalah selera. Meskipun tidak fans, saya tetap baca beberapa bukunya. Beberapa bulan yang lalu, Djenar sibuk memberitakan di Twitternya bahwa ia sedang menggarap sebuah film berjudul Nay (2015). Film ini ditayangkan di bioskop tertentu dan di tempat pemutaran film alternatif. Kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk menonton di acara mingguan Sinema Rabu, bertempat di Pavillun 28, dan hanya membayar tiket Rp25.000 saja. Belum lagi, sutradara dan pemain filmnya hadir pula untuk diskusi. Film berkisah tentang Nayla, seorang perempuan korban kekerasan ibunya dan korban pelecehan seksual bapak tirinya. Meskipun ibunya tahu tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan suami barunya, sang ibu meminta Nay tutup mulut demi kebaikan anaknya sendiri. Konflik

Kenali Jakarta Melalui Halte

Saya senang naik TransJakarta (TJ), sebenarnya. Walaupun kadang jalurnya berputar agak jauh untuk menuju satu tempat, jalur TJ melewati tempat-tempat tujuan ternama di Jakarta seperti mall-mall besar, tempat wisata, gedung pemerintahan, dan lainnya. Bagi pendatang seperti saya, halte busway TJ juga bisa menjadi ancer-anceran untuk menuju ke suatu tempat. Selain itu juga ongkos bisa menghemat banyak. TJ hanya nyaman digunakan saat kosong, biasanya di siang hari pada jam kerja atau akhir pekan. Untuk akhir pekan, sebaiknya jangan naik TJ jurusan daerah-daerah wisata keluarga seperti Kota Tua, Ancol, dan Ragunan karena kita akan berebutan dengan orang tua dan anak-anak yang lebih banyak memakan tempat duduk. Dan TJ mulai penuh lagi saat sore hari sebelum maghrib karena di saat itu orang-orang sudah selesai piknik. Intinya, mendapatkan kenyamanan di TJ itu cukup jarang. Jakarta sudah diguyur hujan beberapa hari ini. Kemarin, saat saya menghadiri pameran Eko Nugroho, adalah salah satu

Menyelami Anomali

Image
Kalau bicara tentang politik, kesan yang timbul di benak saya adalah kotor, segala yang haram dihalalkan, kepentingan pribadi, dan semua itu tidak dilakukan oleh orang-orang bertato, melainkan orang-orang berdasi. Kalau menghadiri pameran seni yang bertema politik, kesan yang biasanya datang adalah panas dan jengah karena penuh kritik dan aura negatif. Intinya, saya bukan fans seniman yang mengkritisi politik. Hingga akhirnya saya melihat pameran Eko Nugroho. Nama Eko Nugroho terdengar saat ia berkolaborasi dengan brand fashion ternama Louis Vuitton. Ia mendesign scraf yang penuh warna--langsung jatuh hati. Saat itu juga saya browsing tentang seniman yang berkediaman di Yogyakarta ini. Karya-karya yang lainnya juga bagus, bikin saya ingin lihat secara langsung. Foto karya yang paling saya ingat adalah ia menggambar sebuah lorong di bagian kiri, kanan, atas, dan bawah lorong secara masif. Hari ini saya niat sekali datang ke Salihara yang notabene cukup jauhh dari tempat saya. Tapi i