Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

29 My Age

Hari ini usia menginjak 29 tahun. Menjelang umur ini, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak deg-degan, tidak senang, dan tidak khawatir--mengingat saya belum menikah. Banyak teman-teman di usia saya yang belum menikah kemudian ia merasa cemas. Mungkin kondisi yang woles ini banyak dibantu oleh beberapa hal, seperti banyaknya teman-teman kantor saya yang masih muda sehingga kecil tuntutan untuk rewel tentang pernikahan. Bisa jadi karena mereka adalah pemuda-pemudi ibukota yang cukup terbuka pemikirannya untuk tidak melulu memikirkan tentang pernikahan dan kemudian memaksa orang lain. Faktor lainnya adalah keluarga saya juga yang tidak bertanya kapan menikah (mereka lebih sering bertanya tentang beasiswa). Atau mungkin saya dan pacar sudah membicarakan tentang rencana kami untuk menikah segera setelah uangnya terkumpul.



Seiring dengan pertambahan usia, otomatis si pacar terlibat dengan rencana-rencana saya. Karena saya ingin lebih maju, maka ia pun harus maju agar bisa jalan beriringan. Kalau dulu kami woles, sekarang kami saling mengusahakan untuk merencanakan hidup yang lebih baik--terutama dari sisi finansial. Kami ingin hidup teratur. Saya melakukan perencanaan keuangan seperti membagi tabungan dan melakukan investasi di beberapa hal. Si pacar juga sedang berusaha menyelesaikan project-projectnya. Ya mudah-mudahan uangnya terkumpul, tidak hanya untuk menggelar upacara pernikahan, tapi untuk kehidupan selanjutnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tentu harus memikirkan banyak hal. Saya jadi mengevaluasi pemasukkan saya dan memikirkan untuk mencari kesempatan lain. Beban sih karen hidup jadi terasa lebih serius, tapi ini bukan beban yang saya sangkal. Anggap saja ini tantangan yang perlu dilewati. Biasanya orang menyesal dan merasa menjadi dewasa adalah sebuah beban karena harus memikirkan A, B, C, dan D. Tapi sebenarnya kalau mau dibikin tidak ada beban itu bisa kok. Ya puas saja dengan hasil yang dicapai sekarang. Terus saja berada di zona nyaman sampai tua. Masalahnya, saya tidak puas dengan keadaan saya sekarang. Saya merasa saya bisa lebih baik dari sekarang. Caranya? Ya dengan beban-beban tadi. Sama seperti olahraga, supaya memiliki otot yang sehat dan bagus ya harus latihan beban.

Tadi malam, si pacar bertanya apakah keteraturan hidup berkorelasi dengan kebahagiaan. Kayaknya bahagia itu kita ciptakan sendiri, apapun kondisinya. Banyak orang yang hidupnya sudah teratur juga merasa tidak bahagia. Ya mudah-mudahan, pertambahan usia beserta pekerjaan rumahnya tidak membuat kami lupa untuk melakukan hal-hal yang kami sukai dan mengapresiasi hal-hal kecil di sekeliling kami.

Wish me luck! :)

Comments

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba