Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

(Review Musik) Barasuara

Keindahan kata-kata tidak hanya bisa diekspresikan melalui tulisan, tapi juga bisa diekspresikan melalui lagu. Lirik lagu yang ceritanya tidak klise, pemilihan kata yang tidak umum, dan puitis menjadi nilai tambah untuk membuat saya suka pada sebuah band. Puitis tidak harus melulu berbicara tentang cinta atau keindahan alam. Sebuah kritik terhadap sosial juga bisa disajikan secara puitis, seperti yang dilakukan Efek Rumah Kaca (ERK).

ERK adalah satu-satunya band Indonesia yang saya suka. Tapi akhir-akhir ini saya tertarik pada band lainnya yaitu Barasuara. Pertama kali saya mendengar Barasuara yaitu saat mereka dan ERK melakukan pertunjukkan kolaborasi tahun lalu. Wah, liriknya bagus dan musiknya bersemangat. Kesan saya positif sekali dengan band ini. Tampaknya yang terpincut tidak hanya saya saja. Barasuara diinginkan oleh para pendengar baru. Semenjak pertunjukkan kolaborasi itu, Barasuara hampir ada di semua media.

Beberapa hari yang lalu, Barasuara mampir ke kantor saya untuk melakukan wawancara dan recording performance mereka. Tidak hanya pegawai kantor saja, Barasuara juga mengumumkan kepada para fansnya, jadi semua orang bisa menonton. Karena ini bukan acara komersil, jadi yang nonton tidak terlalu banyak. Semacam private gig!

Foto dokumentasi milik Kotak Musik MI.
Sesi wawacara. Foto dokumentasi pribadi.
Foto dokumentasi pribadi.

Saya juga membeli CD asli mereka. Yes! Saya tidak membajak. Di dalam album yang berjudul Taifun, terdapat sembilan buah lagu, yang lima di antaranya sudah saya dengar di YouTube. Gebukan drum dan gesekan gitarnya begitu seru sehingga tidak membuat jenuh. Aransemen setiap lagunya juga berbeda sehingga penuh kejutan, salah satu yang mengejutkan adalah Taifun. Jika lagu lain mengajak pendengar untuk headbanging, lagu Taifun lebih mengajak untuk lari sambil lompat-lompat kecil di pedesaan.

Oke, saya kasih bocoran sedikiiit saja tentang wawancara kemarin. Vokalis, frontman, dan pencipta lirik Barasuara Iga Massardi mengakui bahwa Taifun adalah lagu yang paling berkesan untuknya karena lagu ini diciptakan saat sang anak mau lahir. Lagu ini seperti berisi petuah-petuah yang diberikan pada anak.

"Di dalam hidup ada saat untuk berhati – hati atau berhenti berlari
Tawamu lepas dan tangis kau redam di dalam mimpi yang kau simpan sendiri
Sumpah serapah yang kau ucap tak kembali
Tak kembali
Semua harap yang terucap akan kembali
Akan kembali
Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu
Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu."

Benar-benar sebuah angin segar di tengah band yang menghembuskan nafas percintaan nan sendu. Barasuara tidak menyuguhkan kelesuan, justru Barasuara membuat ingin berseru, tanpa muatan negatif atau musik yang berisik. Bahkan pimpinan redaksi saya pun suka. Dia memuji dua kali di depan tim saat pertunjukkan usai. Hehe. Wajib dengar!

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba