Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Hidup Tanpa Sosok Bapak

"Kayaknya si mbak ini dekat sekali dengan bapaknya ya."
"Iya."
"Kayaknya dia sayang sama bapaknya."
"Iya, bapaknya juga sayang sama dia. Lah, kenapa enggak pacaran aja?"

Di atas itu adalah petikan obrolan candaan antara saya dan teman saya. Kami sama-sama punya minat kepo di social media terhadap satu orang yang juga merupakan teman kami (tapi saya sih enggak deket-deket amat). Saya dan si teman ini sama-sama punya emotional baggage yaitu ketidakdekatan atau kehilangan sosok bapak saat masih kecil. Bedanya saya sama dia adalah dia bisa dekat dan sayang terhadap bapaknya, sementara saya tidak.

Banyak teman-teman saya yang orang tuanya mengalami perceraian. Setiap perceraian pasti punya dampak terhadap anak, tapi dampak yang dialami teman-teman saya ini rupanya tidak terlalu negatif seperti yang saya alami. Walaupun sudah berpisah, mereka masih sangat berhubungan baik dengan sang bapak. Masih suka hangout bareng, masih suka selfie, dan masih bangga terhadap bapaknya. Bahkan masih sangat dekat dengan bapak--sampai jadi orang tua terfavorit--meskipun kini tinggal bersama ibu. Sementara saya tidak. Bahkan foto berdua pun tidak pernah.

Perasaan kebersamaan itu, terutama pada sosok bapak, menimbulkan sebuah perasaan yang asing yang tidak pernah saya alami. Apa sih rasanya sayang sama bapak? Apa sih rasanya berkomunikasi sama seorang pria yang merupakan orang tua sendiri? Apa sih rasanya bisa bersandar atau memeluk bapak? Apakah perasaan yang dialami sama seperti perasaan saya ke ibu? Apa yang ingin dia kemukakan melihat kehidupan yang saya jalani sekarang? Apa sih nasihat dia ketika saya mau memilih karier dan pasangan?

Pergolakkan emosi yang naik dan turun, perasaan benci dan maaf, rindu dan menghindar.. semua melebur dalam sesal, sesal, dan sesal. Perasaan yang asing itu tidak akan bisa dikenali selamanya, karena sang bapak kini sudah tiada. Sebuah kepincangan. Kini bapak hanyalah kata yang asing dan kosong namun menggema di setiap lorong.

Comments

  1. Hiks ... peluk dari jauh!

    ReplyDelete
  2. Aku sih bapak masih ada, tapi punya pertanyaan yg sama kayak kamu. Dan juga nggak punya foto berdua dengan bapak. Sampai setua ini masih suka dibentak di depan umum krn katanya aku gendut dan gendut itu menjijikkan :))
    Kalau lihat perempuan yang dekat sama bapaknya ada sedikit rasa iri.

    ReplyDelete
  3. @Andika: :)

    @Lea: I think you are beautiful just the way you are, Can :)

    ReplyDelete
  4. Aku juga peluk aja, ah, ke Nia *hugs*

    ReplyDelete
  5. Hehehehe....

    fyi: Sampai disini gara2 ngetik di google "rasanya selfie bareng bapak"

    ReplyDelete
  6. Dea: :) :)

    Acepbaduy: Hahaha.. haloo, selamat datangg. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba