Skip to main content

Ngopi di Gayanti

Sebagai pendatang di Jakarta dan telah melihat kota megapolitan ini melalui tv, koran, dan majalah, banyak beberapa tempat yang ingin saya datangi. Salah satunya adalah tempat-tempat kuliner yang berdiri sejak lama, seperti Kopi Tak Kie, Kedai Tjikini, Ragusa.. dan terakhir yang saya datangi yaitu Gayanti Coffee Roastery.

Bandung punya kopi Aroma yang ternama dan menjual bubuk kopi. Karena rindu menyeduh kopi non pabrik besar, teman-teman menyarankan saya pergi ke Giyanti karena mereka juga menjual kopi bubuk dan kopinya enak. Tidak seperti kopi Aroma yang murni menjual bubuk saja, Giyanti punya tempat duduk di mana orang bisa minum-minum cantik. Bukanya hanya Rabu-Sabtu, itu pun tidak sampai malam. Katanya karena mereka perlu waktu untuk roasting kopinya.

Akhirnya, setelah lama merencanakan, kemarin pergi juga ke sana bersama dua orang kawan yaitu Yudo dan Badar. Pintu masuknya agak tricky yaitu sebuah lorong yang berada di pinggir bangunan besar yang sedang direnovasi. Itu juga saya tahu setelah diberitahu satpam. Begitu keluar dari lorong, saya melihat cafe Giyanti yang dibagi tiga bagian yaitu indoor dengan AC, outdoor dengan kipas sehingga orang bisa merokok, dan di lantai dua. Suasana cafenya artsy dan friendly. Tipikal cafe yang didatangi bule lah. *apa sih






Saya memesan piccolo. Awalnya saya ditanya mau pesan kopi yang ringan seperti cappuccino, kuat seperti espresso, atau medium seperti piccolo. Saya mau yang medium, jadi saya pesan piccolo. Kalau kata pelayannya, piccolo ini seperti cafe latte tapi kopinya lebih strong. Kopinya pakai kopi Gayanti, yaitu kopi khas yang mereka roast sendiri.


Untuk harga, standar Jakarta sih, yaitu Rp35 ribuan. Misalnya piccolo harganya Rp36 ribu untuk gelas kecil, ditambah pajak jadi Rp41 ribu. Makanan yang tersedia juga lebih ke kudapan manis seperti brownies dengan harga yang kurang lebih sama. Jadi untuk satu orang bisa Rp75-80 ribu. Tapiii, saya sih suka kopi piccolonya. Menurut saya rasanya pas, tidak membuat trauma seperti kedai kopi murah yang campuran kopi dan susunya tidak pas, atau kedai franchise ternama yang sebenernya rasa kopinya gitu-gitu aja. So it is recommended and worth the money.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…