Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Be Careful of Monster Under Your Bed

"Hati-hati dengan monster yang ada di bawah tempat tidurmu."

Begitu kira-kira kata teman saya bernama Beni. Baru saja dia cerita tentang pikiran-pikiran yang belakangan sedang mengintai di saat malam. Overthinking yang ia alami pasti berasal dari sebuah akar. Entah apa akar yang dimilikinya. Saya kira hanya perempuan saja yang overthinking. Ternyata, laki-laki yang konon lebih rasional dan logis, pun dihantui dengan pikiran-pikiran yang hiperbola, berlebihan, lebay, yang menggeret diri untuk berasumsi yang tidak-tidak. Pikiran-pikiran negatif itu ibarat seperti monster di bawah tempat tidur yang menakutkan dan bisa datang kapan saja.

Perkenalkan monster yang saya miliki sekarang. Monster saya berakar dari keinginan mengkritisi diri malam-malam seperti "You need to be relax, easy, loveable, and simple." Monster yang mengingatkan saat teman kuliah berkata, "Cara memperlakukan Nia itu berbeda daripada orang biasa", atau si pacar yang berkata, "Kamu itu orang yang sulit", dan teman kantor yang bercanda, "Saya mau ikut workshop How to Deal with Difficult People biar bisa deal sama Nia".

Diri yang sulit ini tentunya berdampak pada lingkungan sekitar. Tidak menjadi everyone's favorite sehingga selalu menjadi third circle dalam sebuah pertemanan, atau mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan seperti dibohongi dengan dalih enggan konflik atau menjaga perasaan, bahkan dijauhi orang lain. Fiuh. sedih juga tidak bisa seakrab itu dengan orang lain. Saya merasa tidak mengada-ada untuk menjadi seseorang yang sulit, dan tentu enggak mau juga lah. Saya merasa ya diri saya ya begini adanya. Dan mengubah diri itu susah sekali. Sudah beberapa kali dicoba, tapi gesekan dengan diri dan orang lain terus ada. Malah bikin frustasi.

Memang, jadi orang yang sulit butuh konsekuensi. Jadi, monster di bawah tempat tidur, saya tidak bisa menaklukan kamu. Bagaimana jika kita berteman saja? Saya akan terima diri saya apa adanya--dengan berbagai macam konsekuensinya. Karena mengubah diri lebih sulit daripada beradaptasi.

Kalau kamu punya monster apa?

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba