Skip to main content

Review Scary Face & Fluffy Hair Treatment dari The Bath Box

Halo. Kali pertama review beauty products nih.

Di Instagram, nama produk kecantikan The Bath Box cukup terkenal. Branding mereka oke sekali. Fotonya bagus, websitenya bagus, dan kayaknya banyak yang beli. Walaupun harganya lumayan mahal, saya penasaran juga. Akhirnya saya memutuskan untuk beli deep pore cleanser Scary Face yang berhadiah Fluffy Hair Treatment. Jadi, intinya beli karena promosi sih. Hehe.

Paket dikirim ke kantor dan saya unboxing di sana. Saat dibuka, eh lucu amaaat. Jadi produknya ditutup kertas yang berisi potongan kertas warna pink dan produknya dibungkus pakai busa. Secured pokoknya. Udah gitu ada petunjuk penggunaan hair treatment dengan ilustrasi yang lucu serta kartu "With Love" sehingga berkesan. Jangan-jangan ini produk mahal buat packaging-nya nih. :p

Packaging yang lucu!
Malamnya saya coba Scary Face yang mengandung arang. Cubit sedikit, taruh di tangan secukupnya, tetesin air secukupnya juga, campur, kemudian oles di muka. Muka yang udah hitam ini makin hitam. Scary! Tekstur yang semula kasar jadi lembut saat dicampur air. Saya kira akan jadi seperti scrub gitu. Udahnya enggak gatel, merah, dan jerawatan.

Yang saya suka dari The Bath Box ini adalah produknya wangii sekali. Bahkan sebelum kemasan Scary Face dibuka, udah berasa wanginya dari luar. Tapi saat diaplikasikan ke muka, menurutku wanginya jadi terlalu kuat sehingga cukup ganggu juga.

Dakocann..
Besoknya saya coba Fluffy Hair Treatment yang mengandung telur, alpukat, dan pisang. Ini juga produknya wangii sekali. Saya oleskan sebelum keramas dan diamkan selama 20 menit. Bilas dan cuci pakai sampo. Walaupun udah dicuci pakai sampo, wanginya masih ada dan tahan sampai sore. Rambutnya juga lembut. I really like it!

Intinya sih saya suka produk mereka dan kayaknya akan beli lagi deh. :)

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…