Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Perjalanan Memaafkan

Tidak semua fase kehidupan itu berada di area senang-senang. Ada sedih, ada marah, dan ada luka. Luka-luka yang disebabkan oleh orang-orang yang barangkali tidak sengaja melakukannya. Tapi bagaimana pun, hati sudah kepalang memar dan meninggalkan bekas luka. Meski sudah tidak berdarah-darah, ingatan akan luka tersebut tetap berdatangan.

Seorang spiritualis dari Meksimo bernama Miguel Angel Ruiz, berkata, "Kita menghukum orang lain ribuan kali untuk kesalahan yang sama. Setiap kesalahan tersebut datang pada ingatanmu, kamu menghakimi mereka lagi dan menghukum mereka lagi." Membaca hal ini, saya merasa dimengerti sekali. Meski kejadian telah lama berlalu, tapi setiap ingatan tersebut datang, saya kembali menghukum mereka di ingatan.

Kesalahan mereka sulit lepas dari ingatan. Ibaratnya seperti mobil di radio yang memainkan lagu yang jelek saat dalam perjalanan ke supermarket, kemudian kamu menyadari bahwa dirimu menyenandungkan lagu tersebut saat berjalan di antara rak keju, dan kemudian masih teringat lagi saat kamu sampai di rumah dan menaruh keju di atas meja.

Beberapa tahun ke belakang, saya terus mengulang kata-kata dan tindakan orang lain yang menyakitkan di pikiran. Saya ingin memaafkan dan move on, tapi itu tidak mudah. Memaafkan tidak mudah, tapi hasilnya berharga sekali yaitu kebebasan. Kebebasan ini bukan kebebasan dari orang lain yang berbuat salah untuk lepas tanggung jawab, tapi kebebasan ini untuk diri sendiri yang bebas dari perasaan tersiksa. Kemarahan itu begitu memakan waktu dan melelahkan.



Socrates pernah bilang bahwa kunci dari perubahan adalah fokuskan semua energimu bukan untuk bertarung dengan hal-hal lama, tetapi bertarung untuk membuat hal baru. Agar tidak terobsesi dengan "musuh" tanpa nama itu, kita harus mengisi hari-hari kita dengan aktivitas yang bermakna, bekerja dengan memuaskan, dan bergaul dengan orang-orang yang penting bagi kehidupan kita. Kita harus membangun masa kini dan masa depan, bukan berkelahi dengan ingatan-ingatan di masa lalu.

Hal terpenting adalah kita harus berkomitmen untuk melakukan perjalanan memaafkan daripada menghakimi diri bahwa diri ini tidak siap untuk memaafkan. Selama kita secara tulus ingin mengembalikan keadaan mental yang damai (daripada melakukan aksi balas dendam), kita sudah berada di setengah perjalanan untuk memaafkan.

"Teman saya mengatakan bahwa memaafkan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Kita membuat keputusan untuk memaafkan. Tapi kita harus tetap memilih untuk memaafkan, terus menerus. Berlama-lama marah dan sedih bukan berarti bahwa kita tidak dalam proses untuk memaafkan, tapi itu bagian dari proses."

Amin.


Sumber: Psychology Today

Comments

  1. Baru beberapa tahun terakhir, saya menyadari bahwa memaafkan bukan berarti melupakan. Saya masih bisa mengingat dan membicarakan kejadian yang dulu menyakitkan tanpa merasa marah atau terluka. pada titik itu sadar, saya sudah memaafkan. :)

    ReplyDelete
  2. Wiwww.. mbakikin, super sekali. Thanks for sharing! :) :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba