Skip to main content

Review Bakat Menggongong

Kumpulan cerita pendek menjadi hal yang disukai oleh saya akhir-akhir ini karena seumpama win win solution antara keinginan dan kemalasan untuk baca buku. Saat dipinjamkan buku Bakat Menggongong karya Dea Anugrah yang terlihat tipis, dengan pedenya saya berpikir bahwa buku ini akan habis dalam semalam. Tapi ternyata tidak. Huhu. Buku yang berisi 15 cerita pendek ini membutuhkan perhatian ekstra.

Bakat Menggonggong karya Dea Anugrah. Dok. pribadi.

Salah satu cerita yang saya suka berjudul Kisah Sedih Kontemporer (IV) yang berisi sebuah percakapan tentang sepasang manusia yang berdebat tentang harta gono-gini dan memutuskannya dengan cara melempar koin. Perdebatan tidak hanya mengenai harta gono-gini tapi mereka juga memperdebatkan siapa yang memilih angka dan gambar dengan memperdebatkan siapa yang memulai gagasan lempar koin ini. Pusing yak? Tapi bagus.

Cerita lainnya yang saya suka adalah Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada. Tokoh "aku" bertindak sebagai narator sudut pandang ketiga yang menceritakan tokoh "kau". Tokoh "kau" ditemukan oleh "aku" saat "aku" sedang belanja di swalayan 24 jam. Saat itu "kau" tampak sedang bertengkar dengan seseorang di telepon. "Aku" juga bercerita tentang "kau" yang memiliki seorang ibu sebagai orang tua tunggal yang baik. Namun sayang ibu ini mengalami kehancuran ketika ia mencintai seorang laki-laki yang memperlakukannya dengan tidak baik. Ibu yang tegar menjadi penjudi dan lonte. Tokoh "kau" jadi harus mengurus ibunya dan masuk ke dalam hidup yang penuh penderitaan. Di akhir cerita, ada ending yang menarik di sini, yang sebaiknya tidak usah saya tuliskan. Sebaiknya kamu baca.

Seperti yang saya bilang sebelumnya kalau buku ini butuh perhatian ekstra, Bakat Menggonggong agak sulit dibaca dalam suasana ramai dengan perhatian yang terbelah-belah. Tidak mudah untuk kembali dan meneruskan baca setelah terdistraksi. Menurut saya lho ya, mungkin orang lain bisa menikmati buku ini tanpa usaha. Yang membuat susah bukan temanya yang rumit--bahkan cerita cukup sederhana namun tidak klise--tapi mungkin yang bikin susah dinikmati adalah kadang ada loncatan ide antar paragraf. Jadi kadang harus dibaca pelan-pelan dan dipikirkan hubungannya. Jadi membayangkan sepertinya akan lelah sekali kalau saya membaca karya Dea versi novel. Haha. Ini mengingatkan pada buku Cala Ibi karya Nukila Amal yang butuh usaha. Tapi saya lebih bisa menikmati novelnya Nukila.

Intinya buku ini bagus. Terlihat bahwa Dea adalah orang yang banyak baca. Dea juga beberapa kali memasukkan referensi pop seperti penulis atau penyanyi di dalam ceritanya. Dan ia juga bisa mengeksplorasi dalam caranya bercerita. Kalau tujuan membaca untuk rekreasi, buku ini bisa ditinggalkan. Tapi kalau perlu referensi baru untuk memperluas pengetahuan bacaan, Bakat Menggonggong bisa dijadikan pilihan.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…