Saya Mengikuti Tutorial Macrame dan Ini Hasilnya

Image
Dari dulu, saya suka dengan dekorasi atau desain interior bohemian. Salah satu dekorasi yang saya suka adalah macrame . Ada pembuat macrame wall hanging  yang karyanya saya suka sekali, yaitu Sarae Macrame. Tapi kayaknya mahal, bisa di atas Rp500 ribu. Jadinya saya memutuskan untuk bikin sendiri saja. Foto diambil dari Instagram Sarae Macrame. Ketertarikan saya terhadap macrame membuat teman saya, mba Ririe, memberikan satu gulung tali katun macrame . Setelah lama terbengkalai, karena enggak tahu mau belajar ke mana, akhirnya mba Ririe menawarkan untuk ikut pelatihan macrame yang ia buat, yaitu bikin cover oil difuser . Setelah ikutan, saya jadi tahu teknik dasarnya. Nah, semenjak itulah saya mulai eksplorasi macrame wall hanging tutorial di YouTube. Macrame layered wall hanging Bentuk segitiga kebalik ini kayaknya bentuk macrame paling dasar. Saya mengikuti macrame tutorial di Let Be . Di sini jelas sekali panjang tali yang digunakan, tebal talinya, dan dia pun menjelaskan dengan enak

Kehidupan Personal vs Keinginan Eksis

Akhir-akhir ini saya mengalami kegalauan dalam dunia perblogan. Bisa dilihat kalau saya jarang update blog. Padahal blog ini memegang peran penting dalam menjaga hobi menulis dan kewarasan saya (karena bisa curhat colongan di sini tanpa diedit orang lain). Dan yang terpenting, menjaga eksistensi saya di dunia maya.

Hahaha.. kayak yang baca banyak aja.

Tapi serius deh. Mulanya saya mau buat blog khusus tentang orang yang baru menjalani kehidupan rumah tangga. Ada cerita, ada foto, dan kalau tidak malas bisa ada video. Dulu saya pernah buat blog khusus bernama #housemate, yaitu ketika saya ngekos satu atap bersama seorang pria aneh, dan tulisannya konsisten tentang dia. Saya pikir lucu juga ya bikin blog yang terkonsentrasi begitu. Tapi kok ya.. akhir-akhir ini ada pikiran enggan membagi privasi?

Kita harus berhati-hati di internet karena once you write it, you can't really erase it. Foto yang diunggah kemudian dihapus itu belum tentu hilang dari jejak dunia maya. Biasanya saat di-browsing akan ada lagi. Daan foto saya di internet sudah cukup banyak, dan saya ingin hapus history saya dari Google, tapi tidak bisa.

Jadinya gambar kucing aja yaa.

Ada seorang vlogger luar negeri yang merupakan ibu rumah tangga merekam kehidupan keluarganya dan diunggah secara rutin di YouTube. Walau saya enggak kenal, tapi karena sering nonton, saya jadi berasa ikut kenal dia, suaminya, dan anak-anaknya. Apalagi ketiga anaknya begitu lucu dan saya jadi ikut mengikuti perkembangan mereka. Karena syuting dilakukan di rumah, saya jadi bisa lihat rumah dia, kamar tidur anak-anaknya, dan kamar tidur dia. Apakah menyenangkan sebagai penonton? Tentu iya. Saya dapat suguhan yang menarik. Tapi apakah menyenangkan jika ruang privasi kita (seperti kamar) dilihat orang-orang yang tidak dikenal? Nah, saya pikir-pikir lagi deh.

Blog memang beda sama vlog. Walaupun tidak menyuguhkan visual seperti kamar tidur, blog juga memperlihatkan privasi lain seperti perasaan. Pembaca jadi tahu perasaan saya terhadap suami saya, baik perasaan positif atau negatif. Pembaca jadi tahu pandangan saya tentang pernikahan secara personal karena saya pasti akan bahas suatu kasus secara spesifik dan enggak bisa curhat pakai analogi karena eventually pembaca akan tahu kok kalau saya curhat colongan. Haha. Hubungan saya dan suami jadi ranah privasi, berbeda dengan hubungan saya dengan seorang pria yang tidak terlalu saya kenal seperti #housemate.

Jadi enaknya bagaimana ya, pemirsa? Ada saran untuk mengakomodasi kedua kebutuhan tersebut? :D

Comments

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Pasang IUD di Puskesmas

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba