Skip to main content

Mineral Botanica Acne Serum

Several years ago, I never heard the word 'serum'. I did not have any idea about it. But now I put serum in my skin regime. Since I am a big believer, I am sure that serum can treat my skin problems. Serum has smaller molecules that can penetrate deeply into the skin. And it delivers a very high concentration of active ingredients. So it is kinda magic in the teeny-tiny bottle!


There is a lot of serum in the market. I carefully choose them because most of their price are expensive. Then I chose Mineral Botanica Acne Serum, an indie nature friendly make up brand. First, I did research on it to find review how good is this product. Some people are impressed and got a good effect. Well, I decided to give it a try. The price is still affordable though, it is around Rp80.000.

I put Mineral Botanica Acne Serum after I double cleanse my face, right before I put moisturizer, in every morning (because vitamin C works best in daylight!). I like the texture, it is light, not sticky and it's absorb to my skin easily. It has a good scent but not a strong one. I read that some people can see the changes over a night. I put all over my face, including acnes on my cheek. But when I wake up, I find that my acne is not getting smoother. It is getting bigger instead! Is this serum has detox effect to stimulate the growth of acne?

I tried it for four days and there is no good effect for my acne. The acne is not getting smoother or smaller. But I can feel my face more dewy and brighter.

It is too soon to judge how a serum work in four days. Because serum takes four to six weeks to show the benefit. But I want the acne disappear soon, and then I decide to buy acne oil from Shoppasoap. I still put this serum on my face, excluding some acne area, and cover the rest with acne oil. It works better though.

As a conclusion, Mineral Botanica Acne Serum is good but it is not outstanding. But I still use it now to see the effect. I have several serum in my bucket list and can't wait to try and compare them. I'll give you the update!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…