Skip to main content

Hada Labo Face Wash | Is It Worth The Hype?

Nama Hada Labo happening sekali di forum-forum kecantikan. Produk dari Jepang ini harganya tidak terlalu mahal tapi hasilnya cukup memuaskan. Karena kemarin binahong bar soap-nya tidak memberikan dampak positif, saya jadi cari face wash baru. Sejauh ini, face wash yang paling cocok buat saya adalah Biokos dari Martha Tilaar. Tapi karena ketinggalan di kampung halaman terus kayaknya kulit udah urgent banget, saya beli Hada Labo yang mudah didapat.



Hada Labo punya dua jenis face wash yaitu mild peeling dan moisturizing. Karena saya sudah punya COSRX yang bisa buat ngangkat kulit mati, saya pilih yang Hada Labo moisturizing face wash. Oh ya, FYI, beberapa waktu lalu saya pernah tes kulit gitu. Ternyata kulit saya itu kering, tidak kenyal, dan dehidrasi. Wah, saya kaget juga karena saya selalu menganggap kulit ini berminyak. Tapi ternyata tidak. Huhu.

Saat pertama kali dioles, Hada Labo punya warna seperti face wash pada umumnya yaitu putih. Saat dipakai di muka, face wash ini tidak berbau, lebih cenderung sedikit bau kimia. Kalau dilihat dari kemasannya, Hada Labo itu fragrance free dan colorant free. Produk ini ngingetin sama Redwin, sebuah produk kesehatan kulit dari Australia. Beberapa orang senang dengan produk yang bebas bau. Tapi karena saya sudah terbiasa dengan produk yang memiliki bebauan, jadi agak eneg juga saat memakai face wash-nya. Haha.

Wajah saya terasa tidak kering setelahnya. Beberapa face wash kadang meninggalkan sensasi kulit ketarik. Tapi tidak 100% lembab juga karena saya melihat ada beberapa area kering di wajah saya. Dan yang terpenting sih produk ini tidak menimbulkan iritasi atau munculnya jerawat kecil-kecil. Malah beberapa jerawat saya hilang setelah seminggu pemakaian.

Produk ini bisa dibilang cocok untuk kulit saya, tapi kok saya masih terbayang Biokos face wash ya. Haha. Mendengar kata face wash, saya masih prefer Biokos dari negeri sendiri. Tapi Hada Labo bisa dijadikan produk alternatif jika Biokos saya sudah habis. :)

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…