Skip to main content

Drama Trimester Kedua


Alhamdulillah kehamilan sudah masuk trisemester kedua. Saat saya menulis blog ini, usia kandungannya 19 minggu. Enggak terasa bahwa minggu depan usia kehamilan saya menginjak 5 bulan. Waktu terasa lebih cepat daripada saat awal usia kehamilan karena setiap hari bertanya-tanya "Wah lama sekali ya menginjak usia kandungan selanjutnya!"

Kandungan trisemester pertama saya relatif tidak rewel. Hanya mual sedikit, tidak ada muntah, tidak ada ngidam, tidak ada flek, tidak ada kram. Tapi mulai trisemester kedua mulai agak rewel yaitu sakit pinggang, sakit di bagian bokong, dan sakit secara psikis melihat badan mulai melar secara signifikan dan pakaian sudah pada tidak muat. Hahaha.

Sakit pinggang bermula ketika saya jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor di sebuah akhir pekan. Tidak hanya ke Bogor, saya juga jalan-jalan ke Depok. Saya wara-wiri naik KRL dan banyak jalan. Memang saat itu tidak ada masalah. Tapi begitu hari Senin datang, wah kok rasanya sakit pinggang. Bahkan hingga sekarang. Hiks. Masalah sakit bokong juga baru datang belakangan. Karena pekerjaan saya banyak duduk, kadang ini menyiksa. Bahkan saya bawa bantal ke kantor. Ini juga tidak berdampak baik untuk mengurangi rasa sakit.

Nah, kalau masalah gemuk, ini sedih juga saat mencoba celana dan seragam kantor yang mulai agak sempit. Baju main pun terasa sempit. Teman-teman juga bilang kalau saya gemuk dibandingkan sebelumnya. Memang naik berat badan adalah hal yang wajar saat kehamilan. Tapi karena tahun lalu penurunan berat badan saya cukup fantastis dan menggembirakan, jadinya saya sedih dalam fase ini. Hahaha. Karena menurunkan berat badan itu perjuangan bo!

Tapi yang pasti sekarang jadi agak susah bergerak. Misalnya dari tidur, duduk, kemudian berdiri.. saya seperti jompo yang harus berdiri pelan-pelan. Kalau melihat orang yang tidak hamil dan tidak bisa bergerak bebas itu rasanya iri. Saya ingin fit lagi. Saya bertanya sama suami, "Kok banyak ya orang yang hamil berkali-kali. Karena rasanya tidak enak lho, kayak orang sakit dan butuh perhatian khusus." Apalagi saya jauh dari keluarga, mengurus semuanya sendirian. Walau sakit pinggang, harus angkat cucian, harus kerja, harus cari makan. Namun mengingat bahwa ibu mertua saya bisa melahirkan enam anak dan tidak pernah punya pembantu, saya harus banyak-banyak bersyukur. Dan banyak teman-teman saya yang mengandung anak kedua sementara anak pertama masih kecil, tidak punya pembantu, dan harus mengurus rumah sendirian.. itu pasti melelahkan.

Oke stop mengeluh. Untuk bisa fit lagi, kayaknya saya harus mulai olahraga lagi seperti berenang. Bahkan kalau bisa yoga hamil untuk meluruskan masalah pertulangan dan persendian. Huhu. Kalau badan sudah enak, ke depannya mungkin akan enak.

Kecemasan apakah saya mengonsumsi makanan sehat atau tidak juga tentunya masih ada. Kemarin saya ketemu dengan teman saya yang sama-sama lagi mengandung. Dia bilang dia sudah makan mie instan dari awal kehamilan. Saya terkejut karena saya tipe yang tidak makan mie instan selama hamil. Mau, tapi saya tahan. Terus dia bilang, "Elu jajan di luar juga banyak MSG-nya. Jadi kalau makan mie yang sama aja." Kemudian saya jawab, "Justru karena gue tahu banyak MSG, gue tidak mau menambah asupan MSG dari mie instan." Setelah pembicaraan itu, saya jadi cemas tentang asupan makanan saya. Sebagai anak kosan yang mengandalkan makanan warteg atau gerobak dorong, saya merasa sangat takut adik bayi tidak mendapatkan yang terbaik. Duh, dik bayi, kamu ambil nutrisi yang sehat ya. Yang tidak sehatnya buat mama saja.

Semua permasalahan itu sirna begitu kontrol dan USG ke dokter. Melihat si bayi pertumbuhannya sehat, aktif bergerak, dan semuanya dalam tahap normal itu membuat saya dada saya lega. Momen USG adalah momen yang paling saya tunggu-tunggu. Semoga semua selamat dan lancar sampai kelahiran. Semoga perkembangan jiwa dan raganya juga sempurna. Bahkan ketika si bayi sudah di luar. Amin!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…