Over Idolizing

Foto natanaelginting / Freepik

Beberapa hari lalu, santer banget dengan berita menikahnya pasangan selebritis Raisa dan Hamish. Raisa adalah penyanyi solo terkenal Indonesia, karena suaranya yang bagus dan wajahnya yang cantik. Hamish adalah presenter dan aktor yang maskulin dan wajahnya rupawan. Raisa banyak digandrungi oleh para pria, Hamish banyak digandrungi oleh para wanita. Ketika keduanya menikah, maka warganet membuat tagar Hari Patah Hati Nasional yang cukup membuat gegar dunia per-media-sosial-an.

Ish, enak aja bawa-bawa kata nasional. Situ kali yang patah hati, gue mah enggak.

Saya suka suaranya Raisa, menurut saya bagus. Tapi apakah ia begitu sempurna sampai bisa membuat orang-orang patah hati? Saya kira tidak. Bahkan pernikahan mereka banjir dengan komentar 'terpotek' karena banyak yang bersedih, foto mereka diunggah di mana-mana, kisah percintaannya pun diulas terus-menerus. Aih, sebegitunya?

Pengidolaan terhadap seseorang bukan hanya pada kasus Raisa dan Hamish. Banyak dari kita yang mengidolakan artis, penulis, penyair, atau musisi. Kalau sebatas wajar menyukai karyanya ya tidak masalah. Tapi kalau ikut baper atas kehidupan personalnya, ikut patah hati jika mereka punya pasangan, menurut saya sih ini sudah enggak wajar.

Sekarang social media influencer adalah sebuah pekerjaan yang sedang naik daun. Sebagai pengguna YouTube, saya jadi tahu beauty influencer dari dalam atau luar negeri yang sedang naik di YouTube. Komentar para penontonnya pun sama saja seperti "aduh cantik banget sih, kak", "kakak sempurna banget", atau yang bikin mengerenyitkan dahi adalah saat komentar "this is my relationship goal" kepada social influencer bernama Awkarin pasang foto kelewat mesra dengan pacarnya di Instagram menyeruak. Ah, serius, itu yang kamu jadikan tujuan dalam hidup? Menurut saya ini sudah menjurus pada pengidolaan terhadap seseorang yang berlebihan.

Lalu kenapa sih seseorang yang kita idolakan itu seperti tidak ada celanya?

Kalau mengutip dari website psychologytoday.com (29/12/2009), penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang memiliki kemampuan yang baik dalam satu area, misalnya Raisa yang pandai bernyanyi, cenderung mengirimkan persepsi ke area lain (semacam halo effect). Jadi, selain menganggap Raisa pintar menyanyi, kita jadi menganggap Raisa adalah orang yang ramah, orang yang pintar, atau apapun yang memiliki kebaikan lainnya. Oleh karena itu, kita jadi menganggap Raisa ini adalah sosok yang sempurna.

Menurut saya, pengidolaan terjadi karena kita perlu mengisi hal-hal yang dirasa kurang dalam diri kita. Kalau kata Rani Agias Putri, dikutip dari website psychology.binus.ac.id (07/06/2015), salah satunya adalah kita butuh idola untuk meningkatkan self-esteem kita. Kalau kita memiliki idola, kita akan mengintroyeksikan ke dalam dirinya nilai-nilai atau hal-hal yang melekat pada diri idola, sehingga otomatis akan meningkatkan penilaian positif terhadap diri kita sendiri. Kita jadi merasa bangga dan percaya diri karena mirip dengan sang idola.

Bahkan, sebuah penelitian oleh Maltby (2004) di website psychcentral.com, mengatakan bahwa pengidolaan selebritis yang begitu intens itu berhubungan dengan kondisi kesehatan mental yang rendah, khususnya kesehatan secara umum seperti depresi, kecemasan, symptom somatis, disfungsi sosial, stres, serta kurangnya kepuasan terhadap hidup.

Pengidolaan memang jadi baik jika kita bisa mengambil sari-sari positif orang tersebut. Tapi kalau pengidolaan yang berlebihan membuat kita bersikap berlebihan dalam kehidupan nyata, ikut mem-bully di media sosial jika idola kita berselisih dengan orang lain.. wah, sebaiknya kita periksakan diri. Jangan-jangan kita memiliki "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Ingat, media adalah tempat yang begitu manipulatif. Orang bisa mencitrakan diri sebaik-baiknya di media. Selebihnya, selebritis hanya manusia biasa, sama seperti kita.


Sumber:
Psychology Today, Binus, dan Pscyh Central.

Comments

Popular posts from this blog

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Hi, Mucocele

Pasang IUD di Puskesmas