Gambaran Bayi Lebih Rinci dengan USG 4D

Waktu sebelum hamil, mana tahu sih kalau USG itu ada 2D, 3D, dan 4D? Pokoknya hanya tahu setiap kontrol ke dokter harus USG untuk melihat perkembangan janin bayi. Ternyata, seiring waktu berjalan dan racun dari teman, saya jadi tahu tentang USG 4D yang bisa menampilkan citra anak lebih jelas. Nah, di situ mulai timbul keinginan untuk USG 4D tapi ternyata harganya tidak murah. Di Jakarta saja, harganya berkisar 400-800 ribu rupiah untuk sekali USG. Phew.

Teman saya bilang kalau di Bandung ada yang murah, harganya sekitar Rp200 ribuan, tempatnya di Cimahi. Hanya saja di sana mengantri sekali, bahkan harus daftar sebulan sebelum hari kita kontrol. Wek. Kemudian ada di daerah Arcamanik yang sebetulnya cukup jauh dari rumah. Itu juga harus daftar lebih dulu.

Kebetulan saya punya teman yang berprofesi sebagai dokter. Dia kasih tahu bahwa di klinik tempat ia praktik sedang ada promosi USG 4D. Harga USG 4D dan konsultasinya murah yaitu Rp199 ribu saja, tapi itu belum termasuk harga print yaitu Rp60 ribu per lembar dan biaya administrasi Rp20 ribu. Oh ya, promo ini berlangsung sampai November 2017. Ini bukan iklan ya, cuman kasih tahu aja. Hehe. Dan saat saya cek Instagram-nya, rupanya klinik tempatnya praktik adalah klinik yang baru buka di Bandung dan merupakan bagian dari grup Brawijaya Hospital & Clinic yang sudah banyak tersebar di Jakarta.

Teman saya namanya dr. Fridya Wulandari, Sp.OG. Dia praktik sore, hanya hari Senin-Jumat saja. Saya jadi bela-belain ambil cuti supaya bisa periksa sama dia. Hehe. Biasanya saya kontrol bulanan di RS Limijati, jadi ini kali pertama saya datang ke Brawijaya. Karena namanya klinik, tempatnya kecil namun bersih, bagus, dan modern. Pegawainya juga ramah-ramah.

Dokter Fridya datang pukul 5 sore. Karena kliniknya baru sehingga pasien masih dikit dan saya sudah daftar seminggu sebelumnya, saya dapat antrian nomor dua. Begitu dipanggil, saya masuk ke ruangan dokter yang besaaar. Tempat duduk pasien dan dokternya juga dibuat santai, tidak dibatasi meja besar dan duduk berhadapan seperti ruang praktik biasanya. Tempat tidur untuk USG dan kursi yang untuk ngangkang juga pisah. Wah, keren pokoknya.

Dokter menyuruh saya berbaring kemudian suster mengoleskan gel di atas perut. Mulanya tampilan berbentuk 2D. Kalau dokter sudah sorot area yang mau dijadikan 4D (kebanyakan area wajah bayi), baru deh tampilan berubah jadi 4D dan kita bisa wajah bayi dengan jelas.

Si bayi lagi nunduk. Aduh, lucu sekali. Idungnya bangir, seperti saya. Hehe. Yang paling menggemaskan adalah ia membuka-tutup mulutnya dan tidak mau diam. Belum lagi kedua pipinya yang gembil. Gemas! Kedua tangannya ditaruh di dadanya dalam keadaan mengepal, seperti akan tinju.

The apple of my eye..


Karena pencitraannya lebih jelas, dokter bisa melihat jika anak memiliki cacat seperti bibir sumbing atau ada bolong di langit-langit mulut. Selain itu pemeriksaannya seperti biasa yaitu mengetahui kelengkapan jumlah jari tangan dan kaki anak, besar kepala, besar perut, keadaan lambung dan jantung bayi, keadaan air ketuban, dan tahu apakah ari-ari kita menutup jalan lahir atau tidak. Jadi, kalau ditanya apa kelebihan USG 4D dan mengapa kita harus USG 4D, jawabannya adalah karena penjelasannya bisa lebih rinci ya dan kita bisa tahu kondisi fisik anak.

Karena biayanya tidak murah, maka kita ingin hasil fotonya maksimal dong ya. Hal yang perlu dipersiapkan sebelum USG 4D adalah minum air putih yang banyak sehingga gambar bayi bisa lebih jelas dan banyak jalan kaki sebelum USG bisa membantu anak di posisi yang baik (kalau kata suster di Brawijaya yang menyarankan saya demikian saat sedang menunggu dokter). Tambahan dari saya, kasih prolog ke anak seperti, "Nak, nanti sore kita USG ya, kasih lihat mama mukanya. Dimohon kerjasamanya." Wkwk. Tapi kalau muka bayinya tidak kelihatan karena posisi anaknya sulit atau mukanya tertutup tangan, jangan sedih dan dipaksakan. Dokter pasti akan cari-cari posisi USG secara maksimal kok. Kalau masih tidak bisa juga, datang lagi ke sesi selanjutnya. :)

Kalau masalah dokter, dokter Fridya ini saya rekomendasikan karena bisa menjelaskan semuanya dengan detail dan tidak terburu-buru dalam menjawab pertanyaan pasien. Suami saya aja banyak nanya seperti apa sih penyebab kelahiran prematur. Dan saya juga banyak nanya seperti kenapa ada kasus anak terlilit tali pusar atau kapan sebaiknya saya cuti melahirkan. Hehe.

Tidak ada berita yang paling baik selain mendengar kabar anak sehat setelah USG. Di situ mood saya dan suami benar-benar naik. Suami saya juga jadi lebih royal membelikan vitamin, kalsium, dan camilan. Hahaha. Mau Blackmores? Hayu. Mau Roti Boy? Boleh. Kalsium? Cusss.

Semoga pertumbuhan dan perkembangan belahan jiwa kami ini sempurna hingga lahiran, tanpa cacat dan kekurangan, bahkan setelah lahiran. Amin. Karena, duh terkesan ibu-ibu sekali kalau saya mengucapkan ini, tidak ada yang lebih berarti daripada kesehatan anak sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?