Kedai Kopi Bara, Pelopor Manual Brewing

Di zaman sekarang, kopi adalah minuman wajib yang digemari oleh anak muda saat hang out. Apalagi semenjak manual brewing naik daun, sekarang para peminumnya jadi fasih mengucapkan istilah-istilah kopi. "Ini biji kopinya dari mana? Flores Bajawa atau Aceh Gayo?", "Ini single origin atau house blend?", "Semi wash atau full wash?", "Roasting-nya light roast, medium roast atau dark roast?" atau "Tekniknya v60, aeropress, vietnam drip?" menjadi kalimat-kalimat yang tidak pernah absen di kedai kopi. Wah, pokoknya bikin orang yang hanya ingin menikmati kopi jadi bingung, apalagi jika setelahnya ditanya oleh sang barista, "Kopinya enak engga?"

Nggg..

Mendengar Kedai Kopi Bara, timbul rasa segan di hati saya. Pasalnya, saya pernah ngobrol dengan pemiliki kopi Contrast di Bandung yang bilang bahwa banyak barista yang belajar tentang manual brewing di Kedai Kopi Bara. Pantas saja mereka belajar di sana karena Kedai Kopi Bara adalah salah satu pelopor manual brewing di Bandung. Wow.

Saya pun jadi bercita-cita pergi ke Kedai Kopi Bara. Tapi sering tertunda karena selain letaknya jauh dari rumah, yaitu di Jalan Cibadak, jalan ini juga terkenal panas dan macet. Namun karena ada urusan pekerjaan yang letaknya tidak jauh dari Jalan Cibadak, saya dan suami akhirnya berkesempatan pergi ke Kedai Kopi Bara..

Kedai Kopi Bara terletak di sebuah rumah yang dibangun pada tahun 1890. Kedai kopi yang berdiri dari tahun 2013 ini memiliki tema industrial yang penuh dengan kayu-kayu dan kusen jendela bekas. Interior yang cukup umum ditemukan pada sebuah kedai kopi. Namun karena terletak di sebuah bangunan tua yang tidak memiliki banyak perubahan, kedai kopi ini menarik untuk pengunjung.

Suguhan visual yang pertama kali disajikan.

Katanya di sini suka mengadakan open bar buat yang mau racik-meracik.

Yang tidak suka asap rokok, bisa hang out di sini.

Eksterior yang tidak mengalami banyak perubahan.

Saat itu ada beberapa pilihan kopi, suami saya memesan kopi Cibeber dari Jawa Barat. Saat itu saya sedang tidak ingin kopi manual brew. Dan atas saran baristanya, saya memesan cappuccino dengan kopi Cibeber sebagai dasar espresso-nya. Katanya si barista, "Rasanya enak, bold tapi manis." Ya sudah, akhinya saya memesan itu walaupun ada beberapa menu lain yang menarik untuk dicoba seperti Ladiesccino dan Baraccino yang merupakan signature kedai kopi ini.

List kopi single origin Kedai Kopi Bara

Cappuccino yang saya pesan.

Kopi Cibeber dengan gaya Javanese ice.

Kalau kata suami saya, kopi Cibeber yang diminum dengan gaya Javanese ice (alias manual brew v60 dimasukkin es) enak. "Karena honey process, after taste-nya menyisakan rasa manis di lidah," katanya. Sementara buat saya cappuccino-nya juga enak karena tidak kebanyakan susu dan rasanya cenderung manis walau tidak ditambah gula. Seperti yang disebut suami saya, kopi Cibeber sendiri sudah manis.

Di sini juga ada beberapa camilan seperti pisang bakar atau kentang goreng. Yang mau makan besar seperti nasi ayam atau mi ayam juga ada. Sayangnya waktu kami datang ke sana, yaitu sekitar pukul 12.00, dapurnya belum buka sehingga belum bisa menyediakan makanan. Yaah, lapar deh.

Bagi yang suka kopi manual brew, Kedai Kopi Bara adalah destinasi wajib yang dikunjungi. Secara pelopor kan yaa. Apalagi baristanya juga available untuk diajak diskusi tentang kopi. Dan kalau Instagramnya Kedai Kopi Bara, sepertinya kedai ini juga cukup aktif dalam mengadakan pelatihan, kegiatan kopi atau selain kopi, hingga mengikuti kompetisi manual brewing. Pokoknya semacam melting pot untuk para pecinta kopi deh! Apalagi harganya juga relatif murah. Misalnya Javanese ice harganya Rp23 ribu. Tidak seperti kedai kopi di Kwitang Jakarta yang membuat saya harus merogoh Rp50 ribu untuk secangkir kopi manual brew-nya. :(

Dijamin tidak membuat bangkrut.
Selamat minum kopi, selamat berdiskusi!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?