Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi dari kantor, nomboknya banyak sekali. Kalau turun kelas pun nomboknya cukup lumayan. Apalagi rumah sakit ini tidak menerima BPJS.

Pindah rumah sakit juga bukan hal yang mudah. Selain harga, afiliasi dengan asuransi kantor dan BPJS, juga reputasi rumah sakit, saya juga harus memikirkan dokternya. Apakah dokternya komunikatif, apakah dokternya pro normal dan pro ASI, apakah saya harus antre lama, daaan lainnya. Rumah sakit yang harganya cocok buat saya, yaitu Rumah Sakit Advent, tidak memiliki jadwal dokter yang bisa dilihat di websitenya. Oleh karena itu saya harus nelepon untuk cari tahu dokter mana yang praktik akhir pekan. Setelah dapat dua nama, saya juga riset di Google tentang reputasi dokter tersebut. Mencari ulasan dokter juga tidak mudah. Pertama, rumah sakitnya tidak "terkenal" di kalangan ibu-ibu zaman sekarang (kebanyakan pilih RS Hermina, Limijati, atau Borromeus). Kedua, nama dokternya juga tidak terkenal di kalangan ibu-ibu hamil Bandung seperti dokter Tono, dokter Sofie, dokter Widya, atau dokter Maximus.

Akhirnya saya memutuskan untuk periksa ke dokter Joice Tobing. Di internet, saya menemukan beberapa review tentang beliau dan semuanya positif. Ya sudah, saya memutuskan untuk ke sana. Ini pertama kalinya saya periksa di RS Advent. Susternya menyangka selama ini saya periksa ke bidan. Mungkin dia berpikiran seperti itu karena saya kok baru periksa saat usia kandungan 7 bulan. Hehe. Saya juga disarankan untuk tes HIV di tempat karena ini adalah program wajib pemerintah. Bayarnya hanya Rp25 ribu. Walaupun saya tahu saya minim risiko HIV, tapi saya ikut saja karena toh untuk kebaikan bersama.

Balik lagi ke topik periksa kandungan, begitu dipanggil, saya langsung ke ruangan USG. Ruangannya berbeda dengan ruangan konsultasi dokter. Yah, kalau dibandingkan dengan USG di RS Limijati, tampilan USG di RS Advent ini kurang canggih--tapi bukan berarti jelek lho ya. Hehe. Tapi hasil cetaknya sih sama saja. Setelah USG dan tahu bahwa si bayi baik-baik saja, baru deh sesi konsultasi dengan dokter. Dokter Joice orangnya komunikatif, menjawab panjang lebar semua pertanyaan saya dan suami. Tidak hanya masalah kesehatan, saya juga mengutarakan kekhawatiran saja kalau saya harus SC dan harus menggunakan BPJS. Dokter Joice berbaik hati menjelaskan tata cara penggunaan BPJS di RS Advent, bahkan ia langsung memberikan surat keterangan dokter yang diperlukan sebagai proses administrasi BPJS.

I hope everything's fine.

Kalau kata suami, dokter Joice ini orangnya realistis. Misalnya saat ia mengungkapkan bahwa posisi kepala bayi saya di bawah (yang artinya baik), dan saya bertanya apakah posisi tersebut kemungkinan berubah atau tidak, dokter menjawab "harusnya kalau bayi sudah menentukan posisi, tidak akan berubah. Tapi ada kemungkinan bayi berubah posisi juga". Atau misalnya saat saya bilang saya mau lahiran normal dan apakah bisa terlihat dari kontrol terakhir atau tidak, dokter menjawab bahwa kemungkinan apa saja bisa terjadi, misalnya pada saat hari H ternyata ada kesulitan maka mau tidak mau harus SC. Intinya, dokter Joice tidak mau menjamin bahwa A akan tetap A, dan B akan tetap B.

Ya, bener juga sih. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi saat proses melahirkan. Mungkin saya agak kurang puas dengan jawabannya karena saya tipe orang yang ingin pasti bahwa A akan tetap A dan B akan tetap B. Hehe. Semacam ingin ada jaminan gitu. Tapi karena tidak ada masalah dengan komunikasi dokternya, maka saya memutuskan untuk kontrol ke dokter Joice sampai lahiran. I'll let you know the update.

Sebenarnya saya sudah cukup puas sama asuransi kantor yang tidak ribet. Tapi karena tetap saja jika harus SC akan mahal, maka saya memikirkan untuk menggunakan BPJS untuk jaga-jaga. Kalau berdasarkan testimoni dari teman-teman yang SC pakai BPJS, mereka hanya tambah Rp400-700 ribu saja. Wah! Kan saya jadi tergiur dongg. Saya juga disarankan untuk buat BPJS untuk janin sebagai jaga-jaga jika bayi memiliki masalah dan harus diopname setelahnya. Tapi KTP dan KK saya dan suami belum diubah, surat pindah juga baru diurus. Wah, perjalanan administrasi masih panjang. Mana saya dan suami juga tidak sering di Bandung. Hahaha. Agak nyesel juga tidak langsung diurus setelah menikah.

Untuk persiapan peralatan bayi, ini juga jadi perjalanan tersendiri nih. Ceritanya saya mau pakai popok kain, atau cloth diaper (clodi). Dibandingkan popok biasa, clodi mencegah rembes yang lebay pada baju dan tempat tidur karena daleman clodi memiliki tekstur kain yang lebih tebal dan clodi-nya sendiri waterproof. Dan karena bisa dicuci, pakai clodi relatif lebih murah jika dibandingkan pakai popok sekali pakai (diapers).

Sejauh ini baru ini persiapannya.

Suami siaga 2017 yang sedang jemur popok calon adik bayi.

Clodi menjadi dunia yang baru buat saya. Ternyata banyak sekali istilah per-clodi-an yang bikin saya overwhelmed. Selain istilah, banyak sekali merk dan ulasan yang bikin bingung mana yang harus saya pilih. Ibu-ibu muda ini mahir sekali menjelaskan tentang clodi; ya microfiber, ya liner, ya insert, clodi pocket atau cover, daaan membandingkan banyak merk yang sudah mereka coba padahal harga clodi itu tidak murah. Maka, berdasarkan saran teman-teman yang sudah berpengalaman dan juga menutup mata, saya beli alas ompol (prefold) Bumwear dan universal cover Ecobum. Cara pakainya? Belum tahu! Cara cucinya? Sedang dipelajari! Hahaha.

Untuk mengetahui tentang clodi, saya sampai "kuliah" privat sama temen saya lho untuk tanya ini dan itu. Cucinya tidak seperti popok biasa, deterjennya harus khusus, tidak boleh disetrika, and so on and on and on.. xD

Di antara tingkat stres yang tinggi, tinggal sendirian di Jakarta, kadang saya mikir di malam hari bahwa ternyata mengurus anak yang tidak hanya satu atau dua tahun saja. Saya harus urus anak ini selamanya. Berbeda dengan orang dewasa yang tahapan perkembangannya itu-itu saja, tahapan perkembangan anak itu banyak dan cepat. Contoh kecilnya ialah baju yang dipakai setelah lahir akan berganti dengan cepat. Dan saya harus ada di situ untuk menjaga, menuntun, mengurus selamanya. Astaga. Hahaha. Ya iya, ini sadar enggak sih pas bikinnya? :D

Baca-baca artikel di internet, stres pada trimester akhir itu ternyata umum dirasakan ibu-ibu lainnya. Selain persiapan lahiran, perubahan hidup juga menjadi faktor lain. Kadang segala pikiran itu membuat saya sering nangis, lalu setelahnya jadi kasian dan merasa bersalah sama si bayi karena dikasih hormon kortisol oleh ibunya. Saya tidak mau anak ini tumbuh dengan perasaan sedih.

Maka saya harus cari cara supaya tidak terbawa stres. Caranya ialah berusaha menjalani semuanya, satu persatu, one step at the time. Jadi, mikir perlengkapan bayi ya jalani dengan beli perlengkapan bayi. Jangan sambil mikir biaya lahiran, BPJS, atau masalah kerjaan. Haha. Dan sekarang kayaknya saya harus mengarahkan energi untuk mempersiapkan kelahiran anak seperti ikut kelas hamil, olahraga atau ikut kelas yoga, dan lainnya. Biar sisanya dipikir bapaknya. Hee.

Di tengah segala kesulitan dan pikiran, si adik bayi ini menjalankan perannya dengan baik: menjadi sehat. Alhamdulillah selama ini kandungan saya tidak ada masalah yang berarti, paling sakit pinggang--itu pun sudah terselesaikan dengan berenang. Selain itu tidak ada keluhan. Semoga saat lahiran dan setelahnya pun tetap tidak ada keluhan. Dan sekarang ini, karena adik bayi beratnya sudah 1,5 kg, maka setiap gerakannya berasaaa sekali. :) Her presence makes me happy.

Adik bayi, yang penting kamu sehat. Dan semuanya baik-baik saja. Mudah-mudahan semua ini hanya bentuk overthinking ibumu saja. Amin.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?