Skip to main content

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Hehe. Hal yang diingatkan oleh teman-teman saya ialah saya harus mengetahui tentang laktasi--karena biasanya hal ini yang dilupakan oleh para ibu-ibu.

Salah satu usaha untuk mendapatkan semua pengetahuan itu, saya mengikuti dua kelas yaitu prenatal yoga dan senam hamil. Ada calon ibu yang bingung memilih kelas yang mana. Nih, saya ceritakan pengalaman saya mengikuti keduanya ya.

Saya ikut kelas prenatal yoga di RS Grha Bunda, Bandung, setiap hari Sabtu pukul 10.00 sampai pukul 12.00 karena saya libur kerja di hari itu. Bagi yang tidak kerja, kelas tersedia di hari kerja kok (lihat Instagramnya saja ya). Enaknya prenatal yoga di sini adalah pasien dari luar rumah sakit itu boleh bergabung. Biayanya murah yaitu Rp35 ribu saja. Tempatnya bersih, luas, dan terang. Calon ibu tidak usah bawa yoga mat karena sudah disediakan di sana. Tidak perlu pendaftaran sebelum hari H. Cukup daftarkan diri di hari H. Agar tidak kepenuhan, datangnya harus lebih cepat ya.

Prenatal yoga di RS Grha Bunda, Bandung

Sebelum yoga, saya harus daftar. Nanti suster akan mengukur tensi dan memberikan kartu untuk tahu record kedatangan untuk pendatang baru. Kemudian saya taruh tas dan sepatu di rak yang sudah disediakan, memilih matras, dan menunggu suster datang untuk mengecek detak jantung janin. Dan prenatal yoga akan mulai kalau instruktur sudah datang deh.

Karena saya pernah ikut athlete yoga pada saat sebelum hamil, gerakan prenatal yoga tentu tidak berat dan membuat diri gombyos oleh keringat. Prenatal yoga benar-benar menekankan pada nafas dan kekuatan otot. Beberapa gerakan juga menggunakan alat bantu booster dan block busa sehingga kita tidak terlalu meregang secara maksimal seperti yoga biasa, hehe. Gerakannya juga fokus pada daerah panggul dan sedikit di daerah dada. Daerah dada harus dilatih juga agar otot payudara kuat menahan payudara yang nanti akan membesar karena air susu. Sesekali, instruktur yoga juga menyelipkan afirmasi positif untuk mensugesti kita agar positive thinking.

Tadinya saya mau ikut kelas prenatal yoga di Jakarta. Tapi karena rumah sakit dekat tempat saya yaitu RS Pondok Indah Puri Indah hanya membuka kelas prenatal yoga untuk pasiennya saja, dan biayanya cukup mahal yaitu sekitar Rp120 ribu, jadinya saya tidak bisa ikut. Beruntung di rumah sakit lain yang tidak jauh dari tempat saya membuka kelas senam hamil. Akhirnya saya ikut kelas senam hamil di RS Grha Kedoya, Jakarta, di hari Sabtu pukul 09.00. Harganya sangat murah yaitu Rp30 ribu. Saya sampai kaget kok di Jakarta masih ada kelas senam hamil yang murah, hehe.

Ternyata murah bukan berarti murahan lho ya. Karena saya baru pertama kali ke sini, saya terkejut juga melihat rumah sakitnya yang bagus, ruang senam dan matrasnya yang bagus. Dan setelah mengikuti sesi senamnya juga saya puas (pakai BANGET). Instruktur senamnya mengajar on time, gerakan yang diajarkan banyak dan tentunya berbeda dengan gerakan prenatal yoga, dan setelahnya diberikan edukasi tentang cara memberikan ASI dan cara merawat bayi. Edukasi ini tidak saya dapatkan di kelas prenatal yoga.

Saya juga senam yoga di RS Borromeus, Bandung. Saya ambil setiap Sabtu pukul 08.30. Harganya juga murah hanya Rp30 ribu tapi saya dapat makanan pagi yaitu bubur kacang ijo, merchandise, dan edukasi kesehatan. Beda sama materi edukasi di RS Grha Kedoya yang sama setiap minggunya, edukasi di RS Borromeus berbeda-beda misalnya edukasi cara melahirkan, edukasi ASI dan MPASI, edukasi tanda-tanda bahaya pada kehamilan, dan edukasi HIV/AIDS pada ibu hamil.

Senam hamil RS Borromeus

Ada bolanya untuk praktik orang yang mau melahirkan.

Sama seperti prenatal yoga, senam hamil juga fokus pada pernafasan. Saya diajari gerakan untuk mencegah kram, gerakan agar pinggul tidak jatuh karena posisi berdiri yang tidak benar, gerakan menguatkan otot payudara, hingga senam kegel agar otot vagina kuat. Selain itu, saya juga diajari pernafasan saat mengejan nanti. Sama seperti prenatal yoga, dan tidak saya duga, saya juga diberikan afirmasi positif dan relaksasi oleh instrukturnya.

Prenatal yoga dan senam hamil memiliki kesamaan yaitu semuanya fokus pada pernafasan. Bedanya adalah olahraga otot di prenatal yoga lebih terasa sehingga cocok untuk mengolah stamina, sedangkan senam hamil lebih banyak memberikan pengetahuan tentang menuju persalinan. Jadi, kalau disuruh milih, saya sih rekomendasi calon ibu untuk melakukan keduanya karena prenatal yoga dan senam hamil saling melengkapi. 

Kalau bisa ikutan kelasnya beberapa kali dalam seminggu ya bagus. Tapi kalau seperti saya yang hanya bisa ikut saat weekend, saya perlu mengingat gerakannya dan berlatih di rumah. Atau kadang saya melatih stamina dengan berenang dan jalan kaki di treadmill. Saya merasakan manfaat berenang untuk ibu hamil yaitu mencegah sakit pinggang.



Katanya melahirkan itu adalah hal yang diatur oleh Tuhan. Kita bisa melahirkan manusia lain dari lubang kecil itu tentu butuh sebuah kekuatan besar dan keajaiban yang membantunya. Kita, manusia biasa, hanya bisa berdoa dan berusaha untuk membantu agar persalinannya lancar. Salah satunya adalah dengan olahraga. :)

Semangat ya, calon ibu!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…