Elora

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.

Kata-kata itu seringkali kita dengar dan baru kejadian sama saya. Kelahiran anak direncanakan lahir pada akhir Desember atau awal Januari oleh dokter, ternyata meleset. Cuti diambil jauh hari karena takut melahirkan di Jakarta jadi terbuang. Rencana lahiran normal pun tidak terkabulkan. Rencana pulang setelah melahirkan pun harus tertunda.

Maka, saya mau cerita segala yang ditentukan Tuhan pada akhirnya.

Usia kandungan telah menginjak 40 minggu tapi si jabang bayi tidak kunjung keluar. Saya jalan kaki setiap hari, mempraktikkan gerakan senam dan yoga yang saya pernah ikuti, melakukan kegiatan seks, menari, makan makanan enak biar memunculkan hormon oksitosin, mengajak bayi ngobrol, sugesti positif.. tapi si bayi enggan keluar. Orang-orang mulai bertanya tentang peluncurannya--yang akhirnya bikin stres juga. Saya tahu orang lain tidak sabar, saya juga. Tapi saya tidak bisa menentukan kedatangannya, saya tidak tahu jawabannya. Ini di luar kendali saya.

Ketika sudah terasa mencemaskan, saya dan suami memutuskan untuk kontrol ke dokter di RS Advent sebelum hari perkiraan lahir. Saya pengin segera induksi. Dokter pun menyetujui karena saya tidak ada progress dari minggu lalu. Di minggu lalu, sudah ada kontraksi dan sudah ada pembukaan satu. Namun setelah itu, blas, tidak ada mules apa-apa. Dokter bilang saya akan diinfus dan diberikan dua kali kesempatan induksi. Oke, rencana berkunjung untuk kontrol berubah jadi opname. Keluarga pun jadi direpotkan mengantar baju untuk menginap.

Setelah semalaman diinduksi dan menunjukkan tidak ada mules, saya masuk ke induksi ke dua. Karena dosisnya ditambah, saya pindah ke ruangan bersalin karena perlu dimonitor lebih ketat. Beberapa jam kemudian, setelah suster melakukan pemeriksaan dalam, pembukaan pun tidak bertambah. Ada saja suster yang bercerita bahwa  peluang induksi itu 50:50 tapi kalau kasusnya sudah seperti saya ya 80:20. "Mudah-mudahan ibu masuk ke yang 20 itu. Kalau enggak ya tinggal operasi," katanya gampang. Di situ mental saya langsung down. Saya pengin lahiran normal. Harus normal! C-section semacam lahiran "kelas dua" karena si ibu tidak merasa sakit namun setelahnya akan merasa nyeri berminggu-minggu. Dan teman-teman saya yang hamilnya barengan kok bisa lahir normal dengan mudahnya? Ditambah lagi kata guru yoga yang bilang, "Semua manusia bisa lahir normal. C-section itu baru sekarang-sekarang saja. Jadi ibu harus bisa normal."

Jujur saja, banyak pergolakan batin semacam itu. Ada tekanan tak kasat mata, tekanan yang membuat saya merasa "kalah" kalau harus operasi. Banyak hal-hal yang tidak bisa saya terima karena meleset dari perencanaan. Namun, setelah banyak dipikir, hati mulai ikhlas kalau harus dioperasi. Apalagi yang harus dipikirkan bukan hanya keselamatan diri, tetapi keselamatan bayi.

Teteh saya, yang berprofesi sebagai dokter anak, memutuskan untuk segera c-section saja karena kondisi bayinya akan jelek jika kelamaan di dalam. Bayi bisa buang air di dalam ketuban dan bisa masuk mulut. Itu berbahaya bagi kesehatan. Lagipula, kalau kata suster, induksi bisa bikin bayi stres karena induksi yang membuat kontraksi itu ibarat memeluk bayi secara terus menerus.

Katanya operasi bisa dilakukan di hari yang sama atau besok paginya. Saya berharap operasi bisa dilakukan di malam itu juga, saya tidak bisa menunggu sampai pagi lagi. Mental saya sudah siap dan saya ingin segera bayi ini keluar. Beruntungnya keluarga saya berpapasan dengan dokter Joice sehingga bisa segera menentukan. Setelah suami mengurus administrasi, akhirnya ditentukan saya operasi pukul setengah 9 malam.

Sekitar pukul 8 lebih, saya dibawa ke ruang operasi dengan kursi roda. Di sana saya diganti baju dengan baju steril. Beberapa petugas operasi mengajak ngobrol seperti, "Sebelumnya sudah pernah ke ruang operasi?". Saya jawab, "Sudah, tapi dalam rangka liputan." Kemudian mereka melontarkan candaan klise yang bertujuan untuk mencairkan suasana, "Lho, jadi ibu ini wartawan! Wah, kita harus hati-hati nih. Jangan-jangan ada alat perekam."

Begitu diri ini dibawa ke ruang operasi yang dingin dengan dinding berwarna abu-abu--begitu suram--rasa takut menggerayangi saya. Saya tidak pernah setakut ini dalam hidup! Entah karena rasa takut atau dinginnya ruangan, bibir saya sampai gemetar. Saya berkali-kali menenangkan diri, merapal doa, kemudian menenangkan diri lagi. Panik tidak akan membawa diri kemana-mana, hanya akan memperparah situasi saja. Percayakan saja prosesnya pada dokter ahli dan Tuhan.

Selama proses persiapan melahirkan dan saat operasi, saya jadi sadar tentang satu hal. Tubuh menjadi milik bersama. Tubuh tidak lagi menjadi hal yang sakral yang perlu ditutup-tutupi. Payudara dan vagina bukan menjadi hal seksual, namun menjadi organ yang berfungsi untuk menghadirkan kehidupan baru ke dunia. Itu saja. Saya telanjang, dan dilihat oleh siapa saja, oleh para dokter, suster, perempuan dan laki-laki.

Dokter anastesi menyuntik bius ke tulang punggung saya. Begitu bius masuk, saya merasakan hangat menjalar di bagian pinggang hingga kaki. Setelah itu rasanya kesemutan, lalu kaki terasa berat. Salah satu suster memasang kateter ke saluran kencing--hal yang saya takuti. Tapi ternyata tidak terasa sakit. Kemudian saya ditutup oleh kain dan kain. Sebelum dokter Joice membuka rahim saya, para dokter dan suster berdoa bersama.

Sebenarnya operasi berlangsung santai. Para dokter dan suster saling mengobrol dan bercanda. Mereka mengobrol tentang hal-hal di luar dunia kedokteran, seperti ngomongin masalah cucu. Saking santainya, saya seolah-olah tidak ada di sana. Proses berlangsung sekitar setengah jam, hingga akhirnya dokter Joice bilang, "Bantu dorong dong!" Kemudian para dokter dan suster itu mendorong perut saya dari samping dan atas untuk mengeluarkan bayi. Kemudian saya dengar salah satu dokter berkata, "Wah, bayinya bersih ya!" Dan tak lama kemudian, tangisan bayi terdengar. Saat itu hari Rabu, tanggal 10 Januari 2018, pukul 21.05. Titik balik kehidupan saya.

Saya pun langsung meneteskan air mata. Oh, itu suara anak saya.. saya ingin melihatnya!

Setelah menunggu dokter anak mengecek segalanya, bayi kecil itu ditempatkan di samping saya. Ada bayi putih, bersih, dengan bibir merah, berambut tebal, dan memiliki dua mata yang sipit. Ialah bayi yang seringkali menendang perut selama 10 bulan, yang menemani ibunya saat sendirian di Jakarta. Suster mengarahkan mulut bayi ke puting untuk inisiasi menyusu dini (IMD). Ia tidak menyusu, hanya menempelkan bibirnya. Setelah IMD, suster mengajak untuk berfoto! Suster bilang nanti fotonya akan dibagikan ke saya. Haha, enggak nyangka juga. Sepertinya semua orang yang c-section ada adegan foto bareng sebagai kenang-kenangan.

Jatuh cinta pada pandangan pertama.


Setelahnya lebih lucu lagi. Saat bayi dibawa ke ruang persalinan, dokter Joice menjahit luka saya. Saya ingat dokter Joice bilang, "Ayo, bantuin masukkin ususnya!" Bukannya takut, justru ini membuat saya merasa geli. Heheu.

Para dokter dan suster pun memberikan doa penutup setelah operasi. Setelah itu saya dibawa ke ruang pemulihan. Saat itu mungkin sekitar pukul 10 malam. Kemudian suster pergi ke luar sambil berkata, "Keluarga ibu Nia?" tapi tidak ada jawaban. Suasananya sepi sekali. Hati saya enggak menentu karena merasa sendirian dan ingin melihat bayi. Tidak ada petugas yang jaga. Sampai akhirnya saya dengar suara suami saya. Saat ia masuk ruangan, ternyata tidak sendirian. Ada aa, teteh, dan teman suami (setelahnya suami cerita bahwa ia sengaja menelepon temannya itu untuk cari teman ngobrol karena merasa cemas saat saya masuk ruang operasi. Tapi justru temannya ini meluangkan waktu untuk datang.) Wah, senang sekali!

Kami harus melewati administrasi yang lama untuk bisa kembali ke ruangan. Tadinya aa dan teteh saya mau menunggu sampai bayi diantar ke kamar, namun bayi tidak kunjung diantar hingga pukul 12 malam. Aa dan teteh akhirnya pulang karena sudah keburu ngantuk, dan bayi baru datang sekitar pukul 1 pagi. Ia langsung ditidurkan di sebelah saya yang tidak berdaya antara sakit dan lelah. Tentunya saya tidak bisa tidur karena takut si kecil tergencet dan jadi serba awas kalau ada suara darinya.

Oh ya, RS Advent pro asi dan bayinya dirawat gabung bersama orang tuanya. Jadi kalau kamu ingin dirawat gabung bersama anak, rumah sakit ini bisa dijadikan pilihan.

Saya tidak bisa merawatnya dengan maksimal. Pertama, saya harus berbaring selama 24 jam. Yang bisa saya lakukan hanya miring ke kanan dan ke kiri sambil menyusui. Ketika anak nangis, suami saya yang turun tangan. Ia juga yang pertama kali gendong dan ganti diapers. Saya hanya bisa bantu bangunkan suami kalau ia tidak dengar. Rasa sakit setelah operasi menyadarkan saya bahwa proses kelahiran c-section ini tidak bisa dibilang proses kelahiran "kelas dua". Semuanya merasakan sakit. Apalagi saat pertama kali duduk, pertama kali jalan, pertama kali berdiri, pertama kali kencing. Everyone has its own battle!

Dua hari bersama anak, dokter anak memberitahu bahwa ia harus dirawat karena kuning. Bilubirinnya 10,4.. terbilang tidak terlalu tinggi. Teteh saya menyarankan sebaiknya disinar saja biar tidak bolak-balik rumah sakit. Saya tahu bahwa kuning adalah hal yang wajar pada bayi dan bukan hal yang kritis. Tapi tahu anak ini harus dirawat dan ditinggal di rumah sakit (saya boleh pulang cepat), rasanya patah hati sekali. Pulang ke rumah tanpa anak yang selalu ada selama 10 bulan sukses membuat saya sesegukan. Gini ternyata rasanya..

Selama tiga hari, kami bolak-balik rumah sakit untuk memberikan ASI. Sakit habis operasi, sakit payudara yang membengkak, bercampur dengan perasaan rindu anak itu enggak banget. Tapi segalanya terobati saat kami mengetahui bilubirin anak sudah di angka 6, artinya dia sudah boleh pulang. ASI langsung lancar, luka pascaoperasi langsung terasa baikkan. Ia sudah kembali ke dalam pelukan.

Elora, terima kasih telah memberikan kesempatan untukku menjadi seorang ibu. Dan sesuai dengan arti namamu, jadilah sinar terang untuk kami, orang tuamu. Juga untuk dirimu, juga untuk lingkungan sekitarmu.

Pertama kali di rumah.

Comments

Anonymous said…
ah so sweet....congrat ya nia 😘😘😘 otnay...sayang tmn suami yg nemenin itu bukan icank 😁😂 _momzakwan_
Is it a boy or a girl teh?
Aq nangis baca postingannya.. berasa flashback waktu lahiran jg deh.. aq mah bkus total jdnya gatau tangisan pertama anakku huhuuuu..

Menurutku SC itu semacam ujian buat suami yah, bener ga nih milih suami, soalnya abis SC itu ambyaaar mood dan body. Yg bs full service si baby & ibu baru ya si suami lah.. beda rasanya kl org lain yg bantu, ibu sendiri sekalipun.

Selamat menikmati menjadi ibu ya teh. Bahagia selalu. Sehat selalu. Diberkahi selalu
Aamiin.

-fya
Psiko05
zahra said…
yampun mbaaa kisah melahirkannya mirip banget sama aku. I feel youuu. Lahiran secar atau normal sama2 berjuang ya. 😊