Melepas Kreativitas di Bandung Creative Hub (Beserta Kritik)

Setelah revitalisasi taman dan daerah pinggir sungai, lagi-lagi Bandung memiliki sebuah tempat yang "menggembirakan" untuk warganya. Bandung, yang dikenal sebagai Kota Kreatif, memiliki sebuah gedung yang berfungsi sebagai melting pot insan kreatif kota ini. Nama tempat tersebut adalah Bandung Creative Hub (BCH). BCH adalah sebuah gedung yang memiliki banyak fasilitas seperti ruang kelas, perpustakaan, kafe, studio tari, studio musik, studio foto, studio kriya, auditorium yang menyerupai bioskop, ruang animasi, dan lainnya.

Penampakan dari luar.

BCH dibuka pada hari Kamis, 28 Desember 2017. Sebetulnya gedung yang dicat warna-warni ini sudah menarik perhatian saya sejak lama (mungkin dari setahun atau dua tahun lalu)--karena yang terakhir saya ingat adalah di sini terdapat gedung yang tidak jelas apa fungsinya. Tapi saya tidak tahu gedung yang terletak di Jl. Laswi ini mau dijadikan apa. Begitu mendengar BCH diluncurkan di gedung ini, saya baru ngeh fungsinya.

Saya dan suami mengunjungi gedung ini di hari Minggu, 31 Desember. Kami jalan kaki dari rumah karena letaknya tidak terlalu jauh. Ada banyak pengunjung yang datang, tapi tidak terlalu penuh.

Kami melihat ada pameran perayaan persahabatan antara India dan Indonesia di lantai satu. Pamerannya berupa pameran foto sejarah hubungan presiden zaman Sukarno hingga Joko Widodo dengan perdana menteri India. Pameran ini berlangsung hingga tanggal 5 Januari 2017. Dan sepertinya akan ada pameran lain yang akan diadakan secara rutin dan berkala.



Di lantai satu ini masih banyak display kosong yang seharusnya diisi dengan karya-karya industri kreatif Bandung. Selain itu juga ada kayu yang belum selesai dicat, ada tumpukan kursi di ujung ruangan. Jadi terkesan bahwa gedung ini memang belum 100% selesai.

Di lantai dua terdapat sebuah cafe perpustakaan dan kafe. Saya dan suami mendatangi kafe Kozi, yaitu kafe kopi, dan memesan kopi susu dan campuran kopi, susu, serta essence pisang. Saat itu kafenya sedang promo, jadi semua kopinya dibandrol Rp15 ribu per gelas. Sesuai namanya, kafe ini terasa nyaman. Saya menghabiskan banyak waktu di sana dan cukup menikmati suasana.

Di lantai tiga terdapat studio tari, studio musik (yang dikunci), auditorium, dan studio game. Di salah satu ruangan juga diadakan pameran foto dan pameran lukisan. Karena saya kurang tertarik dengan pameran foto, maka saya fokus pada pameran lukisan. Karya yang ditampilkan adalah buatan John Martono--seorang seniman lulusan ITB yang melukis di atas kain sutra dan diberi detail jahitan.

Karya John Martono

Detail karya John Martono

Sepertinya percetakan diurus oleh Omorfa Matia. Silakan cek IG-nya.

Yang menarik dari pameran tersebut adalah karya-karyanya dijahit dan dijadikan produk fashion seperti scarf, tote bag, hingga pillow cushion. Wah, saya mau deh, karena karyanya memiliki pola abstrak dan warna-warni. Kalau kata suami mah, "Psikedelik banget!" Tapi yah namanya karya seniman, memang harganya lebih mahal dari biasa. Jadinya enggak beli deh. Hehe.

Kemudian di lantai empat terdapat studio fotografi yang memamerkan kamera jadul dan zine foto. Karena saya kurang tertarik sama fotografi, maka saya langsung naik ke lantai lima. Di sini terdapat studio kriya serta studio fashion. Sayangnya di studio kriya tidak ada apa-apa dan studio fashion-nya dikunci. Padahal di sana memamerkan karya batik fractal atau batik yang polanya disusun dengan software yang berdasarkan rumus matematika.

Secara keseluruhan, gedung ini bagus karena memiliki niat yang baik yaitu menjadi wadah masyarakatnya untuk berkarya dan meningkatkan ekonomi kreatif kota Bandung. Tapi sejujurnya saya agak skeptis. Bandung memiliki kebiasaan heboh di awal tapi memble kemudian. Misalnya revitalisasi Taman Pustaka Bunga Kandaga Puspa yang mencengangkan karena penuh bunga warna-warni pada saat pembukaannya. Sayangnya, beberapa bulan kemudian, pengunjung diminta donasi paksa oleh komunitas tanaman yang ada di sana, sembari bunga-bunga warna-warni itu menghilang dan taman mulai kotor oleh daun. Atau perpustakaan di Jl. Bima yang bagus secara eksterior karena temboknya dibuat dari 2000 ember bekas dan dimuat di media massa, tapi ternyata kotor sekali saat saya datang ke sana. Bayangkan, tidak hanya sampah di luar perpustaakan, tapi di dalam perpustakaan itu sendiri lantainya terasa lengket dan banyak sampah kulit kacang.

Banyak orang yang terkesan dengan perubahan Bandung, seperti saya--pada awalnya. Tiba-tiba ada Taman Sejarah dengan kolam yang biasa digunakan anak kecil mandi dan bersuka cita di sana, ada Taman Labirin, Skywalk Teras Cihampelas, atau Teras Cikapundung yang semuanya menarik difoto. Warganya seolah-olah diundang untuk datang untuk bergembira, kemudian selfie, pasang di sosial media, dan menunjukkan betapa indahnya Bandung. Tapi cerita bahwa ada seorang turis yang patah kaki saat ia jalan kaki di malam hari di trotoar Jl. Dago. Karena gelap, ia tidak melihat ada lubang sehingga kakinya masuk ke lubang tersebut. Atau fakta bahwa ada lubang besar di trotoar di Taman Lansia yang bisa mencelakakan siapa saja. Dan juga fakta saat saya memandu teman saya dari luar kota dan kami berjalan kaki di Jl. Sukajadi. Dia bilang, "Aduh, jalan kaki di sini kayak ikutan My Trip My Adventure ya."

Apakah warga Bandung bahagia--seperti yang menjadi target walikotanya yaitu meningkatkan target kebahagiaan? Mungkin Bandung memang membahagiakan bagi warganya yang gemar selfie. Tapi Bandung tetap tidak membahagiakan bagi warga yang kena macet sepulang kantor (dengan durasi yang tidak masuk akal), tidak pula membahagiakan bagi yang terjebak macet akibat banjir di jalan flyover akibat saluran pembuangan airnya mampet. Dan ingat banjir di Jl. Pagarsih tahun lalu yang aliran airnya dahsyat serupa sungai?

Yang mau saya sampaikan di sini bukanlah menekankan Bandung yang tanpa progress. Dibandingkan walikota sebelumnya yang justru masuk penjara karena korupsi, tentu Bandung memiliki progress. Tapii, saya ingin menunjukkan bahwa Bandung tidak seindah yang ada di media sosial. Bandung masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Bandung belum sebagus dan semembahagiakan itu.

Oke, balik lagi ke topik awal tentang BCH. Saya berharap bahwa gedung ini benar-benar maksimal bisa berjalan sesuai fungsinya. Karena kalau berjalan, pasti akan keren sekali! Semoga warga Bandung juga menggunakan dan menjaga gedung ini dengan baik. Jangan karena dinding gedungnya penuh dengan mural lantas pada berdatangan hanya untuk sekadar selfie.

Comments

Lya Amalia said…
Meskipun bandung masih memiliki banyak PR, saya rasa, saya masih sebagai penikmat kota bandung yang happy 😄. Thanks infonya mbak bandung creative hub. Bermanfaat sekali buat newbie seperti saya 😊
Nia Janiar said…
Syukur alhamdulilah kalau bermanfaat 😃

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?